Kalau Saja Waktu Berpihak

 


Aku masih ingat pertama kali kita bertemu. Bukan momen yang besar, tidak juga dramatis. Hanya dua orang yang tidak tahu bahwa pertemuan itu akan jadi sesuatu yang sulit dilupakan.

Waktu itu semuanya terasa mudah. Kita tertawa tanpa alasan yang jelas, bicara tentang hal-hal besar seolah hidup akan selalu memberi kita waktu.

Kita bahkan pernah yakin… kalau apa pun yang terjadi, kita akan tetap ada.

Aku ingat bagaimana kita membuat janji-janji kecil, yang saat itu terasa seperti sesuatu yang pasti. Seperti masa depan adalah sesuatu yang bisa kita genggam, bukan sesuatu yang bisa berubah tanpa izin.

Tapi ternyata, kita terlalu muda untuk tahu, bahwa tidak semua yang terasa selamanya… benar-benar akan tinggal.

Sekarang, yang tersisa bukan lagi kamu. Hanya potongan-potongan kecil dari kita.

Lagu-lagu yang tiba-tiba terasa berbeda. Tempat yang masih menyimpan bayangan kita. Dan kenangan yang datang tanpa permisi, terutama saat aku sedang sendiri.

Aku pernah mendengar kabar tentangmu. Katanya kamu sudah berubah. Katanya kamu sudah baik-baik saja.

Aku ingin bilang aku juga begitu. Tapi beberapa hal tidak pernah benar-benar selesai, mereka hanya… belajar diam.

Yang paling sulit bukan kehilanganmu. Tapi menerima bahwa kita tidak akan pernah jadi seperti yang dulu kita bayangkan.

Kadang aku berpikir, mungkin kita memang tidak salah bertemu.

Hanya saja… kita bertemu di waktu yang belum siap menjaga kita.

Dan kalau saja ada satu kesempatan lagi, bukan untuk mengulang semuanya, tapi hanya untuk mengatakan hal yang dulu tidak sempat aku ucapkan,

aku ingin kamu tahu, dari semua yang pernah singgah dalam hidupku, kamu bukan sekadar kenangan.

Kamu adalah bagian yang tidak pernah benar-benar pergi.

Dan mungkin… di kehidupan lain, di waktu yang lebih tepat, kita tidak akan saling kehilangan.