Part 1 - Sunyi dan Luka

 “Aku selalu bilang aku baik-baik saja.”


Itu kalimat paling sering kuketik di layar ponsel. Paling mudah diucapkan. Paling cepat dipercaya orang.  Terutama oleh Ibu.

Notifikasi WhatsApp-nya hampir selalu datang di jam yang sama, sekitar pukul sembilan malam. Jam ketika berita televisi mulai menampilkan kecelakaan, perampokan, dan harga bahan pokok yang naik. Jam ketika seorang ibu di kota kecil mengingat anak perempuannya yang tinggal sendirian di kota besar.

Ibu: Udah makan, Ra?

Aku biasanya sedang menatap layar laptop, atau menunggu file terunggah, atau sekadar menatap kosong ke arah jendela.

Aku mengetik cepat.

Aira: Udah, Bu.

Padahal kadang cuma roti tawar dan air putih.

Ibu: Jangan sampai kecapekan ya Nak. Kerjaan aman?

Aira: Aman kok Bu.

Titik. Kirim.

Padahal kata “aman” di kantor itu relatif. Aman hari ini, belum tentu minggu depan. Aku selalu berhenti lebih lama di pertanyaan itu. Tiga kata itu seperti plester. Menutup, bukan menyembuhkan.

Kadang Ibu mengirim voice note. Suaranya lembut, sedikit serak karena usia dan obat jantung yang rutin diminumnya. “Jangan terlalu dipaksakan kerjanya ya, Ra. Kalau capek, istirahat. Ibu nggak butuh kamu jadi hebat. Ibu cuma mau kamu sehat.”

Lalu aku membalas dengan stiker senyum. Karena bagaimana aku menjelaskan bahwa lelahku bukan cuma soal kerja? Bukan cuma soal revisi yang tidak selesai-selesai. Bukan cuma soal atasan yang menuntut lebih cepat dari waktu.

Lelahku adalah tentang antrean farmasi. Tentang mengecek ulang apakah obat ibu cukup sampai akhir bulan. Tentang menghitung biaya transport kontrol berikutnya meski asuransi menanggung sebagian.

Asuransi memang menutup pengobatan. Tapi tidak menutup vitamin tambahannya. Tidak menutup makanan khusus yang harus dibeli. Tidak menutup kebutuhan rumah yang tetap berjalan walau kami sedang berhemat.

Dan yang paling tidak tertutup oleh apa pun, adalah rasa takut kehilangannya.

Ibuku pernah bekerja dua shift sehari. Menjahit sampai dini hari. Bangun lebih pagi dari matahari. Semua itu setelah ayah memutuskan pergi dan tidak kembali.

Aku masih kecil waktu itu. Cukup kecil untuk tidak mengerti alasan. Tapi cukup besar untuk melihat ibu menangis diam-diam di dapur. Dia tidak pernah membiarkanku merasa kekurangan. Tapi aku tahu, dia menukar waktu tidurnya dengan uang sekolahku.

Sekarang, ketika dia sesak napas dan berjalan lebih pelan dari biasanya, aku hanya ingin satu hal sederhana, aku ingin ibu hidup nyaman. Tidak perlu kaya. Tidak perlu mewah. Hanya tidak perlu lagi bekerja keras untuk bertahan.

Saat ini aku tinggal di lantai delapan belas sebuah apartemen kecil yang menghadap jalan layang. Dari jendelaku, mobil-mobil tampak seperti garis cahaya yang bergerak tanpa tujuan. Setiap malam, suara kendaraan seperti ombak logam yang tidak pernah surut.

Kota ini tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya pura-pura redup. Seperti aku. Di pagi hari, aku memakai blazer dan lipstik tipis. Di kantor, aku tertawa di waktu yang tepat. Mengangguk saat rapat. Mengirim email dengan tanda seru agar terdengar bersemangat.

“Great!” - “Noted!” - “On progress ya!”

Semua terdengar hidup. Padahal ada ruang kosong yang tidak pernah benar-benar terisi.

Dan malam yang membuatku benar-benar merasa tidak baik-baik saja adalah malam ketika listrik padam selama tiga menit. Tiga menit yang sunyi. Tiga menit tanpa cahaya. Tiga menit yang membuatku sadar, aku takut gelap. Bukan karena hantu. Tapi karena dalam gelap, tidak ada yang bisa kusembunyikan. Hanya aku. Dan suara napasku sendiri yang terdengar asing.

Aku sempat meraih ponsel, berniat menyalakan senter. Tapi kuurungkan. Baterainya sudah nyaris habis. Ironis sekali, aku yang selalu terlihat “siap”, justru tidak siap menghadapi beberapa menit tanpa cahaya.

Aku duduk di lantai ruang tamu, memeluk lutut. Lampu darurat belum menyala. Jendela hanya memantulkan siluetku sendiri, gelap, tipis, hampir tidak terlihat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menangis tanpa suara. Tangisku seperti air yang bocor dari retakan kecil. Pelan. Tidak dramatis.

Di sela-sela itu, ponselku tiba-tiba bergetar. Getarannya kecil, tapi di ruangan yang gelap dan sunyi, bunyinya seperti sesuatu yang sengaja memanggil namaku.

Layarnya menyala samar, memantulkan cahaya kebiruan ke wajahku yang basah.

Rey: Kamu lagi apa?

Pertanyaan sederhana. Terlalu sederhana untuk malam yang terasa berat.

Biasanya aku akan menjawab, “Nggak ngapa-ngapain.”

Tapi mungkin karena gelap membuatku lelah berpura-pura, jempolku bergerak tanpa banyak pertimbangan.

Aira: Gelap.

Aku menatap kata itu lama setelah terkirim. Bukan hanya tentang listrik yang mati. Tapi tentang sesuatu yang lebih luas dan tidak bisa kusebutkan dengan satu kalimat. Tiga detik kemudian, tanda “sedang mengetik…” muncul. Aneh sekali bagaimana kata itu bisa membuat seseorang di ujung kota lain terdiam, lalu berpikir.

Rey bukan siapa-siapa. Bukan pacar. Bukan sahabat lama. Bukan juga orang yang sudah lama kukenal. Kami bahkan tidak punya cerita dramatis tentang pertemuan pertama. Tidak ada tabrakan buku di toko, tidak ada kopi yang tumpah, tidak ada musik latar yang romantis. Kami bertemu di ruang tunggu rumah sakit yang terlalu dingin dan terlalu putih.