Part 2 - Sesama Luka yang Berkumpul
Televisi di dinding menayangkan berita tanpa suara. Running text di bawah layar bergerak cepat, seperti kehidupan yang terus berjalan meski orang-orang di ruangan itu sedang menunggu sesuatu yang belum tentu baik.
Ibu sedang di ruang pemeriksaan. Dan aku, seperti biasa, berpura-pura tenang. Di sebelahku ada seorang laki-laki yang duduk membungkuk, kedua siku bertumpu pada lututnya. Jaketnya sedikit kusut. Rambutnya tidak sepenuhnya rapi, seperti orang yang berangkat terburu-buru. Tangannya menggenggam secarik kertas nomor antrean yang sudah hampir hancur di ujungnya.
Aku tidak berniat memperhatikannya. Tapi keheningan ruang tunggu membuat keberadaan orang lain terasa lebih nyata. Beberapa menit kemudian, namaku dipanggil untuk melengkapi administrasi. Aku membuka tas, mencari pulpen. Tidak ada.
Padahal aku selalu menyimpan satu. Aku menghela napas kecil, lalu tanpa banyak berpikir menoleh ke samping. “Maaf, bisa pinjam pulpennya sebentar?”
Dia menoleh. Matanya lelah, tapi tidak kosong, dia menyerahkan pulpen hitam sederhana. “Dikembalikan yaa?” candanya
Aku mengangkat alis. “Kalau saya nggak lupa ya Mas.”
Dia tersenyum. Bukan senyum lebar. Tidak menunjukkan gigi. Hanya sudut bibir yang naik sedikit. Senyum orang yang tahu hidup tidak selalu ringan, tapi tetap mencoba bersikap wajar.
Aku mengisi formulir. Kami tidak berbicara lagi. Beberapa saat kemudian, seorang perawat memanggil namanya. “Reyhan Saputra?”
Dia berdiri cepat. Saat berjalan melewatiku, aku mendengar potongan kalimat dari telepon yang masih tersambung di tangannya. “Iya, Ma. Aku di sini. Tenang aja.” Nada suaranya berubah. Lebih lembut. Lebih ditahan. Baru saat itu aku tahu, dia juga sedang menahan sesuatu.
Waktu berjalan. Ibu keluar dari ruang pemeriksaan dengan langkah pelan. Dokter bilang kondisinya stabil, tapi harus kontrol rutin. Aku mengangguk, menyimpan semua penjelasan medis di kepala. Di parkiran, saat hendak masuk ke mobil online yang ku pesan, aku baru sadar sesuatu. Pulpen itu masih ada di tanganku.
Aku tidak tahu kenapa aku tidak langsung kembali ke ruang tunggu untuk mengembalikannya. Mungkin karena saat itu aku terlalu fokus pada Ibu. Atau mungkin karena sebagian diriku menganggap pertemuan itu memang hanya sepotong kecil hari yang akan terlupakan.
Pulpen itu terselip di dalam tasku selama tiga minggu. Dan suatu sore, entah kenapa, aku memutuskan untuk kembali ke rumah sakit di pinggir kota. Dengan alasan yang terdengar konyol bahkan di kepalaku sendiri. Mengembalikan pulpen.
Seolah itu bukan sekadar benda, melainkan kemungkinan kecil yang belum selesai.
Begitulah pertemuanku dengan Reyhan dimulai kembali.
