Kenapa Foto "Kita" Tidak Pernah Diunggah?
“Kok kamu nggak posting foto berdua pas liburan kemarin? Kenapa fotonya sendiri?” tanyaku suatu sore.
Dia menatapku. entah jengah, entah sayang. Aku tidak pernah benar-benar bisa membedakannya.
“Hubungan yang baik itu nggak perlu diumbar di sosial media.”
Aku ingin membantah.
Tapi tangannya lebih dulu membelai kepalaku. “Yang penting kan nyatanya aku sama kamu. Sosial media nggak penting.”
Aku diam. Dan entah kenapa… aku percaya.
Hubungan kami sudah berjalan lebih dari dua tahun. Awalnya, dia datang hampir setiap akhir pekan. Lalu berubah, menjadi sebulan sekali. Katanya, pekerjaan sedang banyak.
Aku mengerti.
Suatu sore, ponselnya berdering.
“Ada yang nyari kamu,” kataku. "Kok chat juga tanya kamu dimana?"
Dia melirik layar sekilas. “Teman kantor. Mereka ngajak liburan akhir bulan… tapi aku pilih sama kamu kok.”
Aku tersenyum. Bangga. Merasa memenangkan hatinya.
Waktu berjalan. Pertemuan kami semakin jarang. Dua bulan sekali. Dan aku tidak pernah benar-benar protes. Karena dia selalu menenangkan ku dan memelukku erat saat bertemu.
Bulan depan dia ulang tahun. Tiba-tiba aku punya ide, bagaimana kalau kali ini… aku yang datang? Tanpa bilang. Sebagai kejutan.
Ku putuskan untuk membuat kue sendiri. Membawa hadiah kecil yang kupilih lama sekali. Lalu datang ke apartemennya yang dulu… kami cari bersama.
Tempat yang katanya, “Kalau cari bareng kamu gini kan enak, biar nanti kalau kamu datang, kamu nggak bingung.”
Lift terasa lebih lama dari biasanya. Meskipun aku merasa bangunannya masih sama seperti saat dua tahun lalu ketika aku datang memilih ruangan.
Di sampingku, seorang pria membawa kotak kue dan tas kado.
“Mau ke lantai berapa, Kak?” tanyaku, sekadar basa-basi.
“Empat kak,” jawabnya singkat.
Aku tersenyum kecil. “Wah, sama.”
Sekilas kulirik, di tasnya tertulis nama toko bunga.
Aku tidak terlalu memikirkannya.
Pintu lift terbuka.
Anehnya, kami berjalan ke arah yang sama.
Dan langkahku berhenti.
Di depan pintu yang sama.
Pria di sampingku mengetuk pintu.
Aku masih berdiri di sana, meyakinkan diri bahwa ini hanya kebetulan.
Sampai pintu itu terbuka.
Seorang wanita muncul.
Tersenyum.
Menerima kue dan bunga itu.
Seketika aku mematung terdiam, entah apa yang mereka bedua bicarakan sampai akhirnya aku mendengar dengan jelas wanita itu berkata. “Iya, di aplikasi pakai nama suami saya ya,” katanya ringan.
Suami.
Kata itu menggema lebih lama dari seharusnya.
Aku tidak ingat bagaimana kakiku bergerak.
Tahu-tahu aku sudah masuk. Tanpa izin. Tanpa berpikir.
Dan di sana,
dia.
Duduk santai di sofa yang dulu kupilihkan. Tempat di mana dia pernah bilang, “kamu kan suka warna ini.”
Dia menatapku.
Wajahnya berubah.
“Ka—kamu ngapain di sini?”
Aku ingin marah. Ingin menangis. Ingin berteriak.
Tapi yang keluar justru pelan,
“Ini… maksudnya apa?”
Wanita itu menatapku. Lalu menatapnya.
“Ini siapa?”
Sunyi.
Sunyi yang kali ini… tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata manis.
Dan di saat itulah aku akhirnya mengerti, kenapa tidak pernah ada foto berdua. kenapa tidak pernah ada “kita” di mana pun. Karena sejak kita jarang bertemu, aku memang tidak pernah ada lagi di tujuan hidupnya.
Dan aku hanya seperti pemanis yang candu bagimu, yang jika ditinggalkan menyakitkan, tetapi jika dipertahankan mematikan.
Tanpa banyak kata, aku meletakkan kue itu di meja. Hadiah kecil yang kupilih lama sekali… kini terasa tidak berarti.
“Selamat ulang tahun,” kataku pelan.
