Label Suci, Luka Nyata


Beberapa waktu terakhir, ramai satu kabar yang… jujur saja, cukup untuk membuat logika kita ikut terguncang.

Di sebuah pondok pesantren di Pati, Jawa Tengah, ada dugaan pencabulan yang dilakukan oleh sosok yang, di atas kertas seharusnya jadi penjaga nilai. Korbannya bukan satu dua. Katanya puluhan. Sekitar 30 sampai 50 santriwati.

Dan yang bikin dada makin sesak, banyak dari mereka adalah anak-anak yang datang ke sana dengan harapan sederhana: bisa sekolah, bisa punya masa depan, tanpa harus memikirkan biaya.

Tempat yang harusnya jadi ruang aman, justru berubah jadi ruang yang… kita bahkan sulit mencari kata yang cukup pantas.

Ironisnya, semua ini dibungkus rapi. Dengan nama agama. Dengan status “tokoh yang dihormati”. Dengan label “tempat pendidikan”. Lengkap. Hampir seperti paket kepercayaan.

Yang lebih menyakitkan lagi, beredar kabar bahwa beberapa korban yang hamil justru “diselesaikan” dengan cara dinikahkan dengan santri lain.

Seolah-olah… masalahnya ada di kehamilannya. Bukan di apa yang terjadi sebelumnya.

Seolah-olah… cukup ditutup rapi, lalu semuanya kembali normal.

Padahal tidak ada yang benar-benar kembali normal.

Di titik ini, rasanya wajar kalau akal sehat kita mulai bertanya: sebenarnya, siapa lagi yang bisa dipercaya?

Karena yang terlihat paling “suci” pun, pada akhirnya tetap manusia biasa. Dan dari segelintir manusia itu… tidak butuh banyak alasan untuk berubah menjadi predator.

Mungkin di titik ini, kita tidak lagi hanya bicara tentang siapa yang salah. Tapi tentang bagaimana kita meresponsnya. Tentang apakah kita masih memilih diam, atau mulai berani berdiri di sisi yang seharusnya.

Semoga semakin banyak korban yang mendapatkan keadilan. Semakin banyak yang berani bersuara tanpa takut dibungkam. Dan semakin banyak yang sadar bahwa ini bukan hal yang bisa dianggap “urusan internal” lalu selesai begitu saja.

Dan yang tidak kalah penting, semoga semakin banyak ruang aman yang benar-benar hadir, tempat di mana korban bisa didengar, dipulihkan, dan didampingi secara psikologis… tanpa dihakimi, tanpa disalahkan.

Karena pada akhirnya, yang kita perjuangkan bukan hanya mengungkap siapa yang salah, tapi memastikan mereka yang terluka… tidak harus berjuang sendirian lagi.