Orang-Orang yang Tidak Lagi Terkejut
Aku pernah berpikir orang dewasa tahu apa yang mereka lakukan.
Waktu kecil, semuanya terlihat seolah jelas. Guru bilang belajar yang rajin akan membuat masa depan cerah. Orang tua bilang dunia akan baik pada orang baik. Televisi penuh orang-orang yang berbicara seolah mereka peduli pada semua orang.
Dan kita percaya.
Kita tumbuh sambil membawa harapan kecil itu ke mana-mana, seperti anak kecil yang menggenggam balon terlalu erat karena takut terbang hilang.
Sampai akhirnya kita besar.
Dan pelan-pelan sadar… banyak orang ternyata hanya pandai berbicara.
Mereka bilang “kami mendengar,” tapi tidak benar-benar mendengarkan. Mereka bilang “semua demi kebaikan bersama,” sambil membuat sebagian orang harus tenggelam agar sebagian lain tetap nyaman. Mereka bilang “akan ada masa depan,” sementara banyak orang bahkan kesulitan bertahan sampai minggu depan.
Lucunya, yang paling melelahkan bukan kenyataan itu.
Tapi bagaimana semua orang tetap diminta tersenyum seolah semuanya normal.
Kita masuk kerja sambil pura-pura tidak lelah. Mengangguk pada sistem yang diam-diam menghancurkan kita sedikit demi sedikit. Menghibur diri dengan kata “nanti juga membaik,” sampai lupa kapan terakhir kali benar-benar merasa hidup.
Kadang aku melihat orang-orang di jalan dan bertanya dalam hati:
"Apa mereka juga merasa dunia ini aneh? Apa mereka juga diam-diam takut? Apa mereka juga setiap malam mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa semua ini masih ada artinya?"
Atau mungkin cuma aku yang terlalu banyak berpikir.
Mungkin memang beginilah dunia bekerja. Mungkin harapan hanyalah cara paling halus agar manusia tetap mau bangun pagi.
Tapi di antara semua keraguan itu, aku masih percaya satu hal kecil.
Bahwa selama masih ada orang-orang yang tetap peduli meski dunia membuat mereka mati rasa… semuanya belum benar-benar selesai.
Orang yang tetap membela temannya meski bisa ikut aman dengan diam. Orang yang masih mau mendengar cerita orang lain di tengah hidupnya sendiri yang berantakan. Orang yang masih bisa berkata “aku ngerti kamu capek” tanpa menganggap itu kelemahan.
Mungkin mereka tidak bisa mengubah dunia.
Tapi mereka membuat dunia tidak terasa sepenuhnya hilang.
Dan mungkin harapan memang tidak pernah datang dalam bentuk besar seperti pidato atau janji manis.
Kadang harapan cuma berbentuk manusia biasa… yang memilih untuk tidak ikut menjadi dingin.
Inspired by Delusion:All - One Ok Rock
