Tidak Mengapa Jika Belum Sampai Ke Mana-Mana

 

Hujan turun terlalu deras malam itu. Di dalam bus antarkota yang melaju pelan menembus jalan pegunungan, seorang laki-laki duduk di dekat jendela sambil memutar lagu yang sama berulang kali. Earphone putihnya sudah rusak sebelah, tapi ia tetap memakainya seperti orang yang tidak punya pilihan lain selain bertahan.

Namanya Arka. Dua puluh tiga tahun. Lulus kuliah setahun lalu. Dan sampai malam itu, ia masih belum tahu hidupnya mau dibawa ke mana.

Ibunya mengira ia baik-baik saja. Teman-temannya juga. Di media sosial, ia terlihat seperti orang yang sibuk mengejar mimpi. Kadang upload desain. Kadang foto kopi dan laptop di kafe. Kadang menulis caption tentang “proses”.

Padahal kenyataannya, hampir setiap malam Arka tidur sambil merasa gagal. Ia pernah punya banyak rencana.

Mau kerja di perusahaan besar. Mau membahagiakan ibunya cepat-cepat. Mau menikah sebelum umur tiga puluh. Mau punya rumah yang jendelanya menghadap taman kecil.

Tapi hidup ternyata tidak bergerak sesuai checklist. Lamaran kerjanya berkali-kali ditolak. Orang yang ia cintainya memilih orang lain yang hidupnya lebih pasti. Dan perlahan, ia mulai kehilangan sesuatu yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Bus berguncang kecil saat melewati jalan berlubang. Arka membuka chat ibunya.

“Udah makan belum Nak?” Pesan itu dikirim tiga jam lalu.

Arka mengetik: “Udah, Bu.”

Lalu menghapusnya.

Mengetik lagi: “Belum lapar.”

Hapus lagi.

Pada akhirnya ia hanya membalas: “Aku di jalan pulang Bu. Sudah mau sampai terminal.”

Ia menatap pantulan dirinya di jendela bus. Gelap. Samar. Seperti hidupnya sendiri akhir-akhir ini.

Kadang ia iri pada orang-orang yang tahu tujuan hidupnya sejak awal. Yang bangun tidur dengan keyakinan. Yang tidak takut masa depan. Sementara dirinya seperti orang yang terus jatuh tanpa tahu kapan akan menyentuh dasar.

Lagu di telinganya terus berjalan pelan. “Apakah ada yang mendengar luka dan sedihmu?”

Arka tertawa kecil mendengar lirik itu. Lucu juga, pikirnya. Ternyata ada lagu yang bisa terdengar seperti isi kepala sendiri.

Bus berhenti di terminal kecil hampir tengah malam. Hujan belum reda. Orang-orang turun sambil sibuk melindungi dirinya masing-masing. Arka berdiri lama di depan pintu bus.

Sampai seseorang memanggilnya. “Arka?”

Ia menoleh.

Seorang perempuan berdiri beberapa meter dari sana sambil memegang payung kuning. Rambutnya lebih pendek dari terakhir kali mereka bertemu.

Nara.

Teman masa kecilnya. Tetangga samping rumahnya. Dan cinta pertamanya. Atau mungkin, luka pertamanya ketika itu.

“Waah.....hampir aja pangling,” katanya pelan.

Arka tidak langsung menjawab. Sudah hampir tiga tahun sejak terakhir mereka bicara tanpa canggung.

“Aku yang jemput kamu,” lanjut Nara. “Ibumu khawatir, tadi sore ke rumah”

Kalimat itu anehnya membuat dada Arka sesak. Bukan karena sedih. Tapi karena akhir-akhir ini, ia terlalu lama merasa sendirian sampai lupa rasanya ditunggu.

Mereka berjalan berdampingan di bawah hujan kecil. Tidak banyak bicara. Kota kecil itu masih sama. Lampu toko yang redup. Jalanan basah. Angin dingin yang selalu datang setelah hujan besar.

“Kerjanya gimana?” tanya Nara akhirnya.

Arka tersenyum tipis. “Berantakan.”

“Masih sering overthinking?”

“Keliatan ya?”

“Dari dulu juga keliatan.”

Arka tertawa kecil untuk pertama kalinya malam itu. Nara menatapnya sebentar sebelum berkata pelan, “Kamu terlalu keras sama diri sendiri, Ka.”

Langkah Arka melambat. Ada kalimat-kalimat yang sederhana, tapi ketika datang di waktu yang salah, rasanya bisa hampir membuat seseorang menangis.

“Aku cuma…” Arka menggantung ucapannya. “Aku takut jadi orang gagal.”

Nara diam.

Lalu berkata pelan, “Emang siapa yang ngajarin kalau umur dua puluh sekian harus udah sampai mana-mana dan punya apa-apa?”

Mereka berhenti di depan minimarket yang hampir tutup. Arka menatap jalanan kosong di depannya.

“Aku capek,” katanya akhirnya. Suaranya kecil sekali. “Nggak tahu lagi harus jadi apa.”

Untuk beberapa detik, tidak ada jawaban. Sampai Nara menutup payungnya karena hujan sudah reda, mendekat pelan, lalu berkata, “Kalau belum tahu tujuan… istirahat dulu juga nggak apa-apa.”

Arka menunduk. Malam itu, tidak ada keajaiban. Besok hidupnya mungkin masih sama sulitnya. Tagihan tetap ada. Penolakan mungkin masih datang. Dan masa depan masih terasa menakutkan.

Tapi setidaknya, di tengah hidup yang terasa seperti jatuh tanpa ujung… akhirnya ada seseorang yang berkata: “Tidak apa-apa kalau kamu belum sampai mana-mana.”