Tidak Semua Orang Bertahan di Jalan yang Sama
Belum lama ini, aku membaca sebuah berita di surat kabar
online. Tentang seorang guru yang berjalan 12 kilometer, digaji dua ratus ribu.
Entah kenapa, aku langsung teringat masa itu.
Masa setelah lulus, saat kami satu angkatan bersama-sama
mencoba peruntungan… mengabdi di sekolah.
Kalau kami berkumpul, yang kami bagi bukan sekadar cerita.
Tapi juga cara bertahan.
Karena gaji kami bahkan tak sampai seratus ribu.
Itulah yang membuat kami gedebak-gedebuk ke sana kemari.
Mencari tambahan. Menyambung hidup. Sambil tetap mencoba percaya… bahwa apa
yang kami lakukan ini berarti.
Di antara mereka, mungkin aku yang paling tidak sabar.
Aku memilih keluar lebih dulu. Mencoba menggunakan ilmu ini…
di jalan yang berbeda.
Apakah aku menyesal kuliah di jurusan ini? Tidak.
Karena aku tahu, ilmu ini tidak terbatas ruang. Ia bisa
hidup… di mana pun aku berada.
Apakah aku menyesal pernah berjuang di sana? Tidak juga.
Aku suka dekat dengan anak-anak. Mendengar cerita mereka.
Berbagi sudut pandang yang mungkin tidak mereka dapatkan di rumah.
Tapi menjadi anak tunggal… mengajarkanku satu hal: aku tidak
punya banyak waktu untuk ragu.
Aku harus mandiri. Harus segera keluar dari zona yang terasa
aman, yah meskipun ternyata, di luar sana juga tidak benar-benar aman.
Sekarang, kalau melihat teman-teman yang dulu berjuang
bersama, ada yang jadi dosen, ada yang jadi PNS.
Dan anehnya… aku ikut bangga.
Aku pernah mencoba mengikuti jejak itu. Mencoba tes. Walau
sebenarnya… itu bukan sepenuhnya keinginanku. Itu keinginan almarhum ayahku.
“Nak, cobalah ikut tes… meski hanya sekali,” katanya
waktu itu.
Aku menuruti. Bukan karena yakin akan lolos. Tapi karena
ingin menghargai harapan yang hari ini sudah tidak bisa lagi beliau ucapkan.
Dan mungkin… Tuhan memang punya rencana lain. Duniaku bukan
di sana.
Aku masih berjalan, dengan cara yang berbeda. Masih
menggunakan ilmu yang sama untuk bekerja, untuk bertahan, bahkan untuk menulis
seperti ini.
Dan sekarang aku paham…
Tidak semua orang harus bertahan di jalan yang sama untuk
bisa disebut berjuang.
Karena pada akhirnya, kita hanya sedang mencari cara
masing-masing… untuk tetap hidup, tanpa mengkhianati diri sendiri.
