Berhentilah Membandingkan, Kamu Tidak Tahu Ceritanya!
Kita tidak bisa membandingkan kebahagiaan sendiri dengan kebahagiaan orang lain. Karena ukuran bahagia… tidak pernah dibuat dengan satu standar.
Ia lahir dari cerita yang berbeda, luka yang berbeda, dan perjuangan yang tidak selalu terlihat.
Ada yang sangat bahagia bisa makan 10 potong nugget sendirian, tanpa nasi. Karena mungkin dulu makan saja harus berbagi.
Ada yang sangat bahagia akhirnya bisa membeli sepatu sendiri seharga seratus dua puluh ribu. Karena selama ini, ia selalu memakai yang bukan pilihannya.
Ada juga yang bahagia karena bisa mengirim uang ke rumah, walau sisa di dompetnya tinggal sedikit.
Ada yang akhirnya bisa bekerja, setelah ditolak ke sana kemari. Meski ada yang memandangnya sebelah mata dan meremehkan pekerjaan itu. Padahal bagi dia, itu bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah kesempatan… untuk tetap berdiri.
Atau… Ada yang sekadar menjalani hari tanpa rasa cemas, itu pun sudah terasa mewah bagi sebagian orang.
Dan semua itu… wajar.
Jangan kamu rusak dengan kalimat, “Lah, cuma gitu doang?”
Karena seringkali, yang kamu anggap biasa saja, adalah hasil dari perjuangan yang tidak pernah mereka ceritakan.
Percayalah, membandingkan ukuran hidupmu dengan orang lain itu tidak pernah benar-benar adil.
Kalau kamu membandingkan dengan yang terlalu tinggi, kamu akan merasa tertinggal, lalu memaksakan diri mengejar hidup yang bukan milikmu.
Dan tanpa sadar, kamu lelah… bukan karena hidupmu berat, tapi karena kamu terus berusaha menjadi orang lain.
Kalau kamu membandingkan dengan yang terlalu rendah, kamu mungkin merasa lebih tinggi, tapi pelan-pelan kehilangan rasa cukup. Dan di situlah syukur mulai memudar.
Padahal… Hidup yang kita keluhkan hari ini, mungkin adalah kehidupan yang sedang diperjuangkan mati-matian oleh orang lain.
Jadi, jangan lupa bersyukur. Bukan karena hidupmu sudah sempurna, tapi karena masih ada hal-hal yang layak untuk dihargai.
Dan sebisa mungkin, jadilah bermanfaat. Kalau belum bisa membantu dengan uang, bantu dengan tenaga.
Kalau belum bisa dengan tenaga, bantu dengan pikiran.
Dan kalau itu pun belum bisa… setidaknya jaga lisan dan hati, karena tidak semua orang butuh bantuan besar, kadang mereka hanya butuh tidak disakiti. Baik lewat tindakan, maupun ucapan.
