Yang Bertahan, Yang Kembali

 

Tidak semua orang tumbuh dengan aman. Beberapa belajar bertahan… sebelum sempat benar-benar mengerti dunia.

Aku masih lima belas tahun waktu itu. Dan ternyata, baik anak laki-laki maupun perempuan, di mata predator, hanya satu arti: mangsa.

Dia bukan orang asing. Itulah yang membuat semuanya lebih sulit dipercaya.

Dewasa. Sopan. Dihormati.

Seseorang yang, kalau disebut namanya, orang-orang akan berkata: “Ah, masa sih? Dia kan anak guru… orang baik.”

Tapi pagi itu, semua label itu runtuh. Setidaknya di mataku.

Dia datang, menanyakan kenapa hari Minggu aku di rumah sendiri. Namun perlahan, tangan yang seharusnya melindungi berubah menjadi ancaman. Ia mulai menyentuhku… dengan cara yang membuatku takut.

Dan aku, yang bahkan belum sepenuhnya mengerti tentang tubuhku sendiri, dipaksa memahami rasa takut yang tidak pernah diajarkan di sekolah.

Aku mendorongnya hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga ke ladang tempat kakek dan nenekku hari itu menanam jagung.

Aku menangis dan gemetar. Ketika ditanya, aku hanya berkata bahwa aku merindukan orang tuaku.

Dan tentang kejadian itu… aku memilih diam.

Karena ternyata, ketakutan tidak berhenti saat kita selamat. Ketakutan itu tinggal. Menetap. Dan muncul setiap kali aku melihat wajahnya lagi.

Kenapa aku tidak pernah benar-benar melawan dengan mengadukannya?

Sebenarnya, bukan karena tidak mau, tapi karena tidak tahu bagaimana caranya.

Dan lebih dari itu… aku tahu, tidak semua kebenaran yang kusampaikan akan dipercaya.

Satu-satunya pelarian yang aku punya waktu itu adalah hal kecil yang mungkin terdengar sepele: CD bajakan yang kubeli di pasar.

Di dalamnya ada lagu dari Avenged Sevenfold. Salah satunya: Seize the Day. Lagu balada yang saat itu tidak benar-benar kupahami liriknya. Tapi entah kenapa, lagu itu terasa seperti… pelukan.

Sejak itu, aku terus mendengarkan. Satu lagu. Lalu lagu lain. Lalu semuanya. Sampai tanpa sadar, aku hafal, bahkan sebelum aku paham artinya.

Musik itu tidak menyembuhkan semuanya. Tapi setidaknya… ia membuatku merasa tidak sendirian.

Dua puluh tahun berlalu. Hidup berjalan. Aku tumbuh. Berpindah kota. Mengenal banyak orang. Tapi ada satu hal yang tidak berubah:

Setiap kali aku pulang dan melihatnya lagi, tanganku tetap dingin.

Dia masih sama. Masih disapa orang dengan hormat. Masih tersenyum seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Dan yang paling menyakitkan, tidak ada raut malu di wajahnya saat bertemu denganku.

Kadang aku bertanya dalam diam: berapa banyak yang mengalami hal yang sama, atau bahkan lebih parah dari yang aku alami… tapi memilih diam?

Aku tidak memaafkan. Dan mungkin… tidak akan pernah.

Beberapa waktu lalu, aku membaca kabar: Avenged Sevenfold akan datang ke Indonesia, 10 Oktober nanti.

Entah kenapa, ada sesuatu yang bergerak di dalam dada. Bukan sekadar senang. Tapi seperti… sebuah lingkaran yang hampir tertutup.

Ada satu lagu yang terus terngiang akhir-akhir ini: Gunslinger.

Aku menunggu begitu lama… hanya untuk bisa memelukmu…Aku berhasil melewatinya…

Dulu, ku pikir lagu itu hanya tentang seseorang. Tentang rindu. Tentang cinta.

Tapi bagiku, mungkin itu lebih tentang menemukan apa yang ada dalam diri.

Dan bagiku, ini bisa tentang bagian dari diriku yang tertinggal di usia lima belas tahun, yang saat itu hanya bisa diam, takut, dan bersembunyi.

Dan sekarang, saat aku mendengarkan lagu itu lagi. Tujuanku bukan untuk mengingat rasa sakitnya, tapi untuk bisa memeluk sosok ku dahulu yang sangat rapuh dan ketakutan.

Jika bisa datang ke konser itu, aku tidak tahu apakah akan menangis atau tertawa. Mungkin juga keduanya.

Bukan karena akhirnya bisa mendengar Synyster Gates memainkan gitar, atau M. Shadows melakukan scream.

Tapi karena akhirnya bisa berkata: “Aku berhasil melewati ketakutanku.”

Inspired by Gunslinger - Avenged Sevenfold