Yang Tertinggal di Antara Bel Pulang
Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Entah perpisahan yang disengaja atau tidak. Perpisahan yang manis… atau yang diam-diam meninggalkan sesak.
Apapun itu, selalu ada yang layak dikenang, dan ada juga yang diam-diam ingin dihapus saja.
Sekolah kami tidak besar. Di pinggir jalan yang kalau siang berdebu, kalau hujan jadi becek. Lapangan upacara kadang lebih sering jadi tempat jemur sepatu daripada baris rapi.
Dan kantin… selalu bau gorengan yang sama sejak dulu.
Di tempat sesederhana itu, entah kenapa semuanya terasa penting.
Aku mengenalmu bukan dari perkenalan yang istimewa.
Hanya dari duduk yang kebetulan bersebelahan, karena guru bilang, “yang ramai dipisah.”
Tapi ternyata, kita tetap menemukan cara untuk tetap saling bicara.
Lewat kertas kecil. Lewat tawa yang ditahan. Lewat tatapan yang pura-pura tidak sengaja.
Kamu selalu punya cara untuk terlihat santai.
Datang terlambat, tapi tidak pernah terlihat bersalah. Tidak pernah benar-benar serius di kelas, tapi entah bagaimana nilaimu selalu cukup.
Sementara aku, selalu duduk rapi, mencatat semua, tapi tetap merasa tidak pernah cukup.
Kita tidak pernah menyebut ini apa.
Bukan teman biasa, tapi juga tidak pernah jadi sesuatu yang berani kita akui.
Hanya… dua orang yang selalu memilih duduk berdekatan, meski tidak ada lagi yang menyuruh.
Ada hari-hari yang terasa sangat lama.
Seperti saat kita pulang naik motor lewat jalan yang sama, membiarkan sore menggantung lebih lama dari seharusnya.
Kamu banyak bercerita. Aku lebih banyak mendengar.
Dan di antara angin dan suara knalpot yang lewat, aku mulai berpikir, mungkin aku ingin ini lebih dari sekadar sementara.
Tapi masa sekolah punya caranya sendiri untuk mengakhiri segalanya. Tidak selalu dengan pertengkaran. Tidak selalu dengan penjelasan. Kadang hanya… berakhir.
Setelah lulus, semuanya berubah pelan-pelan.
Awalnya masih saling kirim pesan. Masih tanya, “lagi apa?”
Lalu jadi jarang. Lalu hanya sesekali.
Sampai akhirnya, hanya aku yang masih menunggu notifikasi.
Kamu tidak pernah benar-benar hilang.
Hanya… tidak pernah benar-benar ada lagi.
You don't text at all and only call when you're off your face.
Di jam-jam aneh, dengan suara yang setengah sadar, seolah aku masih jadi tempat pulang, tapi hanya saat dunia lainmu sedang tidak utuh.
Dan bodohnya, aku tetap menjawab. Tetap mendengarkan. Tetap berharap… mungkin ada sesuatu yang masih tersisa.
Sampai suatu hari aku sadar, yang aku pertahankan bukan kamu, tapi versi kita yang hanya hidup di masa itu.
Di bangku kayu yang penuh coretan, di halaman sekolah yang panas, di antara bel masuk dan bel pulang. Tidak semua hal memang harus dibawa sampai akhir. Ada yang cukup jadi cerita. Cukup jadi kenangan. Cukup jadi pelajaran… tentang bagaimana kita pernah merasa.
Karena ternyata, yang paling sulit dari sebuah perpisahan bukan kehilangan orangnya, tapi menerima bahwa kita tidak bisa kembali menjadi diri kita yang dulu.
Dan mungkin… beberapa orang memang hanya ditakdirkan untuk kita temui di masa sekolah.
Inspired by Niki High School in Jakarta
