53 Anak… dan Hakim di Kolom Komentar
53 anak.
Aku membacanya pelan. Mencoba mencerna setiap kalimatnya. Sampai aku turun ke kolom komentar.
Di antara ribuan doa dan dukungan, ada kalimat-kalimat yang justru membuatku berhenti lebih lama:
“Makanya kalau punya anak diurus sendiri.”
“Jadi ibu ya fokus urus anak, kalau sudah begini menyesal kan?”
“Punya anak itu tanggung jawab, bukan dititip-titipkan.”
Dan di titik itu, aku diam.
Bukan karena setuju. Tapi karena heran… seberapa mudahnya kita menghakimi keputusan orang lain.
Tahukah mereka, tidak semua ibu punya pilihan yang sama?
Ada yang menjadi ibu tunggal, harus berdiri sendiri, menjadi tulang punggung sekaligus pelindung.
Ada yang tetap bekerja, bukan karena ingin “lepas” dari anak, tapi karena hidup tetap harus berjalan.
Ada yang tidak punya orang tua, saudara, atau keluarga yang bisa dimintai tolong.
Dan pada akhirnya, menitipkan anak bukan soal “mau atau tidak mau”. Tapi soal apa yang paling mungkin dilakukan agar hidup tetap seimbang dan berjalan.
Atas dasar apa kita merasa berhak berkata, “seharusnya…”?
Seolah-olah kita tahu seluruh cerita di balik keputusan itu.
Aku membayangkan 53 ibu itu sekarang. Bagaimana perasaan mereka.
Rasa bersalah yang mungkin datang tanpa diundang. Rasa takut. Rasa marah. Dan mungkin… penyesalan yang terus berputar di kepala: “andai saja waktu itu…”
Padahal, aku yakin mereka sudah berusaha memilih yang terbaik.
Mereka percaya. Mereka berharap anaknya aman.
Tapi kenyataan berkata lain.
Dan di tengah semua ini, yang justru kita lemparkan adalah… penghakiman.
Kadang kita lupa, yang dibutuhkan seseorang di saat seperti ini bukan tambahan luka dari kata-kata.
Tapi ruang untuk bernafas. Dan satu kalimat sederhana: “Aku tidak tahu sepenuhnya apa yang kamu rasakan, tapi kamu tidak sendirian.”
Karena di dunia yang sudah cukup keras, menjadi manusia yang tidak ikut menambah beban adalah pilihan yang seharusnya tidak sulit.
Semoga keadilan tidak berhenti di berita. Tapi benar-benar hadir, dan berpihak pada yang seharusnya dilindungi.
Untuk anak-anak itu, semoga luka yang tidak terlihat ini bisa dipeluk oleh waktu, dan perlahan sembuh.
Dan untuk para ibu dan ayah, yang mungkin hari ini dipenuhi rasa bersalah… semoga kalian ingat satu hal: kalian membuat keputusan terbaik yang kalian bisa, dengan kondisi yang kalian miliki saat itu.
