Malam Panjang

 

Malam terasa begitu panjang. Langit di luar jendela hitam pekat, seolah tak pernah mengenal cahaya. Aku duduk di lantai kamar, memeluk lututku, bertanya dalam hati, “Kenapa rasanya seperti ini?”

Aku pernah punya mimpi. Pernah begitu yakin dengan arah hidup. Tapi entah sejak kapan, semuanya jadi kabur. Yang tersisa hanya suara-suara di kepala, menertawakan setiap langkahku. “Kau terlalu kecil. Takkan sampai ke mana-mana.”

Dan sialnya… aku percaya mereka.

Hari-hari berlalu tanpa gairah, tanpa warna. Aku tersenyum, tapi itu hanya topeng. Malam seperti ini selalu berhasil merobohkannya. Sunyi menyelimuti, hanya suara detak jam yang menemani.

Sampai suatu hari, aku mendengar lagu itu. Nada lembut tapi kuat, seakan menyalakan lilin kecil di dalam dadaku yang gelap. “Ayo bersulang untuk masa depan yang telah kita perjuangkan.”

Dada ini sesak… tapi bukan karena sedih. Ada sesuatu yang hangat merambat, seperti pelukan dari seseorang yang berkata, “Aku tahu rasanya.”

Aku menangis malam itu. Bukan karena lemah, tapi karena aku merasa tidak sendiri.

Sejak saat itu, aku mulai berjalan. Pelan, ragu… tapi tetap melangkah. Jatuh? Tentu saja. Tapi kali ini, aku memilih untuk bangkit.

“Meski dunia gelap, aku tidak sendiri.” Kalimat itu terus bergema di kepalaku, menuntunku melewati keraguan.

Aku mulai menulis lagi. Menyanyi pelan saat cemas datang. Mengulurkan tangan kepada mereka yang pernah merasakan gelap yang sama.

Dan akhirnya, aku menemukan jawabanku: Aku tak harus sempurna untuk tetap berjalan. Aku tak harus tahu segalanya untuk terus bermimpi.

Jawaban itu bukan di ujung jalan. Tapi di setiap langkah kecil yang kuambil, meski gemetar.

Kini aku tahu, perjalanan ini tidak sia-sia. Aku hidup. Aku memilih untuk tetap percaya.

Inspired by ATEEZ(에이티즈) - 'Answer'