Kita Tidak Kekurangan Cinta, Kita Kekurangan Keberanian
Tidak semua hubungan gagal karena tidak ada cinta. Kadang.… karena tidak ada keputusan. sama halnya seperti kita....
Siang itu, lagu Mangu mengalun pelan, seperti gerimis yang tak benar-benar turun, tapi cukup membuat dada basah tanpa sebab yang jelas.
Nadanya tidak keras, tidak juga memaksa untuk diingat, tapi entah bagaimana… ia tahu persis bagian mana dari diriku yang belum selesai. Dan di sana, aku menemukan kita.
Bukan pada awal yang penuh harap, bukan pada tawa yang dulu terasa mudah, melainkan pada bagian yang tak pernah kita ucapkan: bahwa kita ingin tinggal, tapi tak pernah benar-benar berani menetap.
Lalu ingatanku berjalan ke kisah Candi Plaosan yang berdiri tepat di hadapanku.
Candi yang berdiri tenang, seolah waktu memilih untuk tidak mengganggunya. Dibangun oleh Rakai Pikatan untuk Pramodhawardhani, sebuah cinta yang tidak hanya dirasakan, tapi diputuskan… dan diwujudkan.
Aku terdiam cukup lama di sana, bukan karena kagum pada megahnya, tapi karena sadar, ada cinta yang berani menjadi bentuk.
Dan kita… tidak.
Kita memilih rasa, tapi ragu pada langkah. Kita saling menjaga, tapi juga saling menahan. Seolah cinta cukup jika hanya dipahami, tanpa harus diperjuangkan sampai selesai.
Mungkin memang berbeda. Mereka membangun, meski harus melawan dunia. Sedangkan kita… bahkan tak pernah benar-benar melawan diri sendiri.
Atau mungkin, ini bukan tentang siapa yang lebih kuat mencinta, melainkan tentang siapa yang bersedia kehilangan.
Karena pada akhirnya, cinta bukan hanya tentang siapa yang datang dan tinggal, tapi tentang siapa yang berani menanggung akibatnya.
Sedangkan kita, memilih untuk tidak berani melakukan apapun. Maka wajar jika kisah kita ini tidak runtuh, tapi juga tidak pernah berdiri. Hanya menggantung, seperti lagu yang terus diputar, tanpa pernah benar-benar selesai.
Inspired by Mangu (Fourtwnty ft Charita Utami)
