Saat Mimpi Menunggu Keberanian
Banyak orang punya mimpi. Tapi tidak banyak yang benar-benar mengejarnya. Aku dulu ada di tengah-tengahnya.
Siang itu, aku duduk di sudut kafe kecil. Aroma kopi berpadu dengan angin yang masuk perlahan, dan sinar matahari jatuh lembut di atas meja kayu di depanku.
Penaku bergerak… lalu berhenti. Tokoh dalam ceritaku belum menemukan wajahnya. Atau mungkin, aku yang belum berani memberinya kehidupan.
Pintu kafe terbuka.
Seorang lelaki masuk. Berpakaian dominan gelap, langkahnya tenang, seolah tidak terburu oleh apa pun, dan tidak perlu membuktikan apa pun.
Ia memesan americano, lalu duduk di meja seberangku. Entah kenapa, mataku beberapa kali kembali ke arahnya. Ada sesuatu tentang caranya diam… yang justru terasa penuh.
Aku kembali menulis. Namun kali ini berbeda. Setiap kata yang kugores perlahan membentuk siluet dirinya. Cara ia menunduk, tatapan yang seolah tidak sedang melihat apa pun… tapi memahami banyak hal.
Dan tanpa sadar, aku tidak lagi sekadar menulis cerita. Aku sedang menuliskannya. Aku tenggelam terlalu dalam, hingga batas antara imajinasi dan nyata mulai kabur.
Sesaat, aku bahkan tidak yakin, apakah ia yang mendekat… atau aku yang terlalu jauh tenggelam dalam bayangannya.
“Maaf, kebaca sedikit… bahasanya bagus. Novel, ya?”
Aku tersentak. Penaku berhenti. Perlahan aku mengangkat kepala, dan baru menyadari, ia sudah tidak lagi duduk di seberang.
Ia kini berdiri di depanku.
Aku menahan napas sejenak. “Hanya… mencoba menulis. dan ...menyelesaikannya.”
Ia tersenyum tipis. “Kamu tahu? Banyak orang berhenti di ‘mencoba’. Mereka tidak pernah benar-benar sampai ke ‘melakukan’.”
Aku terdiam.
“Don’t let dreams be dreams. Kalau punya mimpi, kejar… bahkan saat rasanya mustahil.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa, terasa seperti sesuatu yang selama ini kutahu, tapi selalu kutunda untuk benar-benar kujalani.
Belum sempat aku menjawab, seseorang memanggilnya dari luar. Ia berdiri, meraih kopinya. “Suatu hari nanti, aku ingin membaca kisahmu. Semoga aku tidak menunggu terlalu lama.”
Lalu ia pergi.
Aku tidak pernah tahu siapa dia. Dan mungkin, aku tidak akan pernah tahu.
Tapi sejak hari itu, aku sadar satu hal: Masalahnya bukan aku tidak punya mimpi. Masalahnya… aku terlalu nyaman berada di fase “mencoba”.
Karena pada akhirnya, mimpi tidak pernah gagal. Yang gagal adalah kita yang tidak pernah benar-benar memutuskan untuk mengejarnya.
Hari ini, aku masih menulis. Bukan karena aku sudah yakin, tapi karena aku tidak ingin lagi berhenti di “hampir”.
Kalau kamu punya mimpi yang terus kamu tunda. Kamu sedang menunggu waktu yang tepat… atau hanya menunda keberanian?
Inspired by Hall of Fame – The Script ft. will.i.am
