Terlambat Mencintai
Hujan turun sejak sore, mengetuk-ngetuk jendela seperti ingin menyampaikan sesuatu. Kota terasa lebih sepi dari biasanya. Atau mungkin hanya hatiku yang terlalu gaduh, sampai tak bisa mendengar apapun selain suaramu yang terus terngiang, yang kini hanya tinggal kenangan.
Aku memandangi ponsel yang tak kunjung berbunyi. Sudah berapa lama sejak terakhir kita bicara tanpa saling menyakiti? Rasanya seperti bertahun-tahun, padahal baru beberapa bulan.
Dulu, kamu selalu bilang, “Kalau hujan turun, jangan lupa pakai jaket.”
Tapi malam ini aku sengaja membiarkan dingin masuk, seolah itu bisa menggantikan hangatmu yang hilang.
Kita pernah punya satu masa yang indah.
Saat tanganmu menggenggamku begitu yakin, seolah dunia ini tak pernah kejam untuk memisahkan kita.
Tapi waktu berjalan, dan entah siapa yang mulai lebih dulu, kita perlahan menjauh.
Yang tersisa hanya diam. Lalu jarak. Selanjutnya kepergian.
Dan aku terlalu lambat untuk menyadari, bahwa cinta tak cukup hanya dengan "pernah".
“Kau tak akan pernah tahu nilai seseorang sampai dia pergi.”
Kata-kata klise yang dulu aku abaikan, kini menghantam dadaku seperti hujan deras yang tak kunjung reda.
Aku mulai berjalan, menyusuri kota yang penuh genangan, berharap bisa menemukan bayanganmu di antara keramaian.
Aku menunduk, menangkap pantulan diriku sendiri di genangan air, pucat, lelah, kosong.
Aku mendongak, menatap langit yang semakin kelabu.
“Jangan pergi seperti hujan,” bisikku pelan.
“Kalau pun kau harus pergi… ajari aku caranya untuk tidak merindukanmu.”
Kali ini aku menangis. Bukan untuk memintamu kembali. Tapi untuk memaafkan diriku yang dulu tidak tahu bagaimana caranya mencintaimu dengan benar.
Inspired by SUPER JUNIOR – '비처럼 가지마요 (One More Chance)',
