Part 3 - Beban di Pundak

“Gelap? Listrik mati” balasnya malam itu. Aku bisa membayangkan alisnya sedikit terangkat saat membaca pesanku.

Balasan cepat datang. “Aku di bawah.”

Aku mengerutkan kening. Di bawah? Jantungku berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena romantis, tapi karena terkejut. Aku tidak bilang apa-apa tentang ingin ditemani. Aku bahkan tidak tahu kalau dia tahu alamat lengkap apartemenku setelah kami biasanya pulang dari kafe yang sama.

Lalu interkom apartemenku berbunyi. Bunyi yang biasanya membuatku kesal karena berarti paket datang saat aku belum mandi, atau kurir tersesat. Tapi kali ini, bunyinya seperti konfirmasi bahwa pesan barusan bukan bercanda. Aku menekan tombol buka tanpa berpikir panjang.

Beberapa menit kemudian, dia berdiri di depan pintuku, memegang dua gelas kopi dan sekotak lilin kecil yang dibeli entah dari mana di jam segitu. “Satpam bilang listriknya cuma mati sebentar,” katanya saat aku membuka pintu. “Katanya ada perbaikan gardu.”

Aku hanya mengangguk.

“Tapi kadang sebentar bisa lama kalau sendirian,” lanjutnya.

Kalimat itu tidak terdengar seperti teori. Lebih seperti pengalaman.

Aku mempersilahkannya masuk. Apartemenku masih gelap, hanya diterangi cahaya dari lorong dan sedikit bias lampu kota dari jendela. Bayangan kami memanjang di dinding.

Dia meletakkan kopi di meja, lalu membuka kotak lilin itu. Ada tiga batang kecil berwarna putih polos.

“Kamu punya korek?” tanyanya. Aku menggeleng. Dia mengeluarkan korek dari saku jaketnya, menyalakannya. Bunyi gesekan kecil itu terdengar jelas di ruangan yang sunyi. Api kecil muncul, goyah, lalu stabil. Satu lilin menyala. Lalu satu lagi.

Cahaya hangatnya berbeda dengan lampu apartemen yang biasanya putih dan terang. Cahaya ini tidak menyilaukan. Tidak memaksa. Hanya cukup untuk membuat bayangan tidak terlalu menakutkan. Kami duduk di lantai, bersandar pada sofa. Lilin menyala di antara kami, nyalanya kecil tapi tegak.

Aku memegang gelas kopi yang masih hangat. Uapnya naik perlahan, bercampur dengan aroma malam dan sedikit bau hujan dari luar.

“Kenapa kamu takut gelap? Takut hantu?” tanyanya pelan mencoba mencairkan suasana.

Nada suaranya tidak menekan. Tidak seperti orang yang ingin tahu untuk menghakimi. Lebih seperti orang yang benar-benar siap mendengar apa pun jawabannya.

Aku menatap nyala api itu. Api kecil yang rapuh tapi bertahan. “Karena kalau gelap, aku harus jujur.”

Dia menoleh sedikit ke arahku. “Jujur tentang apa?”

Aku menghela napas pelan. Tentang lelah yang tidak pernah selesai. Tentang rasa bersalah pada Ibu. Tentang hari-hari yang terasa seperti tugas, bukan pilihan.

Tapi aku tidak mengatakan semua itu.

Aku hanya tersenyum tipis. “Bahwa aku nggak baik-baik saja.”

Kata-kata itu terasa aneh keluar dari mulutku. Seperti bahasa baru yang belum pernah kupelajari. Rey tidak langsung menanggapi.

Dia hanya menatap lilin itu beberapa detik, lalu berkata, “Ya sudah. Malam ini nggak usah baik-baik saja.” Kalimatnya sederhana.

Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat dadaku terasa longgar. Seolah-olah selama ini aku berdiri tegak memanggul sesuatu yang tidak pernah kutaruh.

“Nggak usah?” tanyaku pelan, hampir seperti anak kecil yang minta kepastian.

“Nggak usah, sok-sokan baik-baik aja” ulangnya. “Nggak ada yang runtuh kalau kamu ngaku capek.”

Aku tertawa kecil, tapi mataku terasa panas lagi. “Aku nggak biasa kelihatan lemah.”

“Siapa yang bilang kamu lemah?” katanya cepat.

Aku menoleh.

“Kamu cuma lagi bersikap sewajarnya manusia.” Jawabnya tenang

Kota di luar masih bising. Sesekali cahaya kendaraan melintas cepat di jendela, seperti kilatan ingatan.

Di dalam ruangan kecil itu, hanya ada dua orang yang sama-sama duduk tanpa topeng. Dan anehnya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa harus terlihat kuat. Aku merasa… diizinkan. Rey adalah orang yang tidak banyak bertanya, tapi selalu tahu kapan harus tinggal.

Dia tidak pernah menginterogasi ceritaku. Tidak pernah memaksaku menjelaskan tangis yang tiba-tiba datang. Tapi setiap kali aku mulai menarik diri, dia seperti punya radar yang halus.

“Aku lagi di sekitar apartemenmu,” katanya suatu malam.

Kami mulai sering bertemu setelah malam listrik padam itu. Tidak setiap hari. Tidak juga terlalu intens. Hubungan kami seperti jeda yang muncul di sela-sela kesibukan yang melelahkan. Jam sebelas malam. Saat kota mulai lengah.

Setelah aku pulang lembur dengan bahu yang kaku dan kepala yang penuh tabel.

Atau setelah dia selesai shift di kantor arsiteknya, membawa tas ransel berisi laptop dan blueprint yang belum tentu akan disetujui klien.

Kami biasa duduk di kafe 24 jam dekat flyover. Tempat dengan lampu kuning redup, meja kayu yang sedikit lengket, dan barista yang sudah hafal wajah pelanggan insomnia.

Di sana, orang-orang tidak terlihat seperti sedang bersenang-senang. Mereka terlihat seperti sedang menunda pulang.

Suatu malam aku bertanya, “Kamu pernah nggak sih merasa capek padahal nggak angkat beban ratusan kilo?”

Rey sedang mengaduk kopinya terlalu lama. Dia tertawa kecil, tanpa benar-benar tersenyum. “Setiap hari.”

Jawabannya terlalu cepat untuk dianggap bercanda. “Terus kamu ngapain?” tanyaku.

Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit kafe yang penuh kabel dan lampu gantung. “Datang.”

“Datang ke mana?”

Dia menatapku kali ini. “Ke orang yang juga capek.”

Aku menahan napas sesaat.

Karena ada sesuatu dalam cara dia mengatakan itu. Bukan romantis. Bukan menggoda. Lebih seperti pengakuan. “Mending buat istirahat nggak sih?” tanyaku.

Dia mengangkat bahu pelan. “Kalau istirahat sendirian, pikirannya berisik.”

Sunyi turun beberapa detik. Lalu ponselnya bergetar di atas meja. Layar menyala.

Nama yang muncul: Ibu.