Part 4 - Beban Mana yang Kau Sangga?

Dia langsung meraih ponselnya.
“Iya, Ma.”
Suaranya berubah. Lebih lembut. Lebih ditahan.
Aku pura-pura menatap jendela, tapi tetap mendengar potongan kalimatnya.
“Udah makan.”
“Iya, tadi ke rumah sakit dulu.”
Dia mematikan telepon pelan. Tidak langsung menatapku.
“Adikmu gimana?” tanyaku hati-hati.
Dia menarik napas.
“Masih terapi. Kakinya belum bisa diajak kompromi.”
“Ada perkembangan?”
“Sedikit.” Dia mengangguk, tapi matanya tidak ikut.
Aku tahu cerita itu tidak sederhana.
“Kamu sendirian yang urus?” tanyaku lagi.
Dia terdiam cukup lama sampai aku hampir menyesal sudah bertanya.
“Ayah udah lama nggak ada,” katanya akhirnya. “Ibu nggak kerja. Adikku belum bisa kerja.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada mengeluh. Lebih seperti laporan fakta.
“Jadi ya…” Dia tersenyum tipis. “Aku yang harus stabil.”
Stabil.
Kata itu terdengar seperti bangunan beton. Kokoh. Tegak.
Tapi aku melihat sesuatu di baliknya.
“Capek nggak?” tanyaku pelan.
Dia tertawa kecil lagi, kali ini tanpa suara.
“Boleh nggak jawabnya jujur?”
Aku mengangguk.
“Capek.”
Kata itu keluar pelan. Hampir seperti rahasia.
“Tapi aku nggak boleh kelihatan capek,” lanjutnya. “Kalau aku goyah, rumah ikut goyah.”
Aku menatapnya lebih lama dari biasanya.
Tiba-tiba aku mengerti sesuatu. Rey datang bukan karena dia kuat. Dia datang karena kalau dia diam sendirian, beban itu jadi terlalu berat.
“Makanya kamu ke sini?” tanyaku.
Dia menatap cangkir kopinya yang hampir kosong. “Kalau aku duduk sama orang yang juga lagi berusaha bertahan… rasanya nggak terlalu sendirian.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Karena di meja kecil itu, di bawah lampu kafe yang redup, ada dua orang yang sama-sama memanggul rumah di pundaknya masing-masing.
Dan untuk beberapa jam, kami saling meminjam bahu tanpa benar-benar bersandar. Kadang, kehadiran memang lebih menyembuhkan daripada solusi. Bukan karena masalahnya hilang. Tapi karena untuk sesaat, beban itu terasa dibagi.
Tapi Rey juga tidak baik-baik saja. Itu bukan sesuatu yang dia katakan. Itu sesuatu yang pelan-pelan kulihat. Dari caranya menatap jalan kosong terlalu lama, seolah ada sesuatu di ujung aspal yang hanya bisa dia lihat sendiri. Dari caranya terdiam saat ponselnya berbunyi dan nama yang muncul bukan namaku. Dari caranya menggenggam gelas kopi terlalu lama, sampai uapnya hilang dan minumannya menjadi dingin tanpa pernah benar-benar disentuh.
Ada malam-malam ketika dia terlihat hadir, tapi pikirannya seperti sedang berdiri di tempat lain. Di rumah sakit. Di ruang fisioterapi. Atau di rumah yang mungkin sudah bukan miliknya lagi.
Suatu malam, hujan turun tipis. Kafe lebih sepi dari biasanya. Suara kendaraan di flyover terdengar seperti dengung panjang yang tidak putus. Rey duduk di depanku, bahunya sedikit lebih turun dari biasanya. Ponselnya bergetar. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Dia menatap layar itu tanpa membuka notifikasinya. Lalu membalikkan ponselnya, menghadap ke meja.
Aku tidak bertanya siapa yang menelepon. Tapi ada sesuatu dalam caranya menghindar yang membuat dadaku terasa berat.