Part 5 - Api yang Hampir Padam
Pertanyaanku terdengar hati-hati, seperti mengetuk pintu yang belum tentu ingin dibuka. Dia tidak langsung menjawab. Tangannya masih di sekitar gelas. Jempolnya mengusap tepi gelas seperti orang yang sedang berpikir terlalu banyak.
“Dokternya bilang ada. Tapi lambat.” Katanya
Aku mengangguk. Lalu, entah kenapa, aku bertanya lagi.
“Keluarga besar mu jadi bantuin?”
Kali ini dia benar-benar diam. Hujan di luar terdengar lebih jelas. Seorang barista menjatuhkan sendok, bunyinya kecil tapi memantul di ruangan. “Basa-basi itu… Akhirnya mungkin akan jual rumah,” katanya pelan.
Aku terdiam. Rumah. Kata itu selalu terdengar permanen. Tetap. Tempat kembali.
“Karena biaya terapi adik mu nggak sedikit ya?” tanyaku.
Dia mengangguk. Tidak ada ekspresi marah. Tidak ada nada menyalahkan. Hanya penerimaan yang terlalu cepat untuk seseorang seusianya.
“Sekarang ngontrak,” lanjutnya. “Yang penting dekat rumah sakit.”
Aku menelan sesuatu yang terasa pahit. Bagaimana seorang Rey harus berperan sebagai anak, kepala rumah tangga, dan kakak bagi adik perempuannya yang hampir cacat karena tabrak lari.
“Kalau keluarga besar nggak ikut bantu. Jadi…kamu sendiri yang ngurus ibu dan adikmu?”
Dia tersenyum tipis.
“Ya siapa lagi.” Kalimat itu bukan keluhan. Bukan juga kebanggaan. Hanya fakta.
Lalu pelan sekali dia berkata, “Aku nggak boleh jatuh.”
Aku menatapnya.
“Aku satu-satunya yang bisa berdiri.”
Kalimat itu menggantung di antara kami. Aku ingin mengatakan bahwa dia juga manusia. Bahwa dia boleh lelah. Bahwa dia tidak harus selalu menjadi tiang. Tapi aku tahu, beberapa orang tidak diberi pilihan untuk runtuh. Begitu juga aku.
“Capek yaa hidup kayak gini?” tanyaku pelan.
Dia tertawa kecil. Kali ini terdengar lebih rapuh. “Capek itu katanya buah dari kerja keras.”
Aku tidak pernah membenci satu kalimat secepat itu. Karena aku tahu dia tidak bercanda. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar melihatnya. Bukan sebagai laki-laki yang datang membawa lilin. Bukan sebagai seseorang yang selalu tahu kapan harus tinggal.
Tapi sebagai anak laki-laki yang terlalu cepat dewasa. Sebagai kakak yang memikul rasa bersalah atas kecelakaan yang bukan salahnya. Sebagai anak yang mungkin tidak pernah diberi waktu untuk takut. Dia mencoba menjadi cahaya. Untuk ibunya. Untuk adiknya. Untuk semua orang yang bergantung padanya.
Padahal dari dekat, aku bisa melihat nyalanya mulai goyah. Dan untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu yang menakutkan: Kami berdua sedang mencoba saling menghangatkan, sementara masing-masing hampir kehabisan api.
