Part 6 - Saling Menunggu
“Udah sampai rumah?”
“Kereta hari ini agak longgar ya?.”
“Hari ini berat?”
Menunggu kabar bahkan ketika tidak ada hal penting yang perlu dilaporkan.
Juga kadang menunggu malam. Karena malam adalah satu-satunya waktu ketika kami bisa menjadi manusia, bukan peran.
Di siang hari, aku adalah anak tunggal wanita yang harus terlihat kuat di kantor. Sedangkan dia adalah tulang punggung yang tidak boleh retak.
Tapi di jam sepuluh malam, di meja kafe dekat flyover, kami hanya dua orang yang sama-sama lelah. Suatu malam, entah karena terlalu sunyi atau terlalu jujur, aku bertanya padanya,
“Kalau suatu hari aku benar-benar hancur, kamu bakal apa?”
Dia tidak butuh waktu untuk berpikir.
“Aku bakal duduk di sebelah kamu. Sampai kamu bisa berdiri lagi.”
Jawabannya sederhana.
Tidak heroik.
Tidak muluk.
Tapi entah kenapa, justru itu yang membuat dadaku sesak.
“Cuma duduk?” aku mencoba bercanda.
“Iya, mau ngapain lagi? Aku juga sama retaknya kan?” katanya. “Kadang orang nggak butuh ditarik. Cuma butuh ditemenin supaya nggak merasa sendirian.”
Aku menatap tangannya yang tergeletak di meja. Ingin menggenggamnya, tapi tidak berani.
“Kalau kamu yang hancur?” tanyaku.
Pertanyaanku lebih pelan kali ini.
Dia tersenyum.
Senyum yang sama yang selalu dia pakai kalau topik mulai terlalu dekat.
“Kamu nggak akan tahu kapan aku hancur”
Aku terdiam.
“Nggak adil,” kataku.
Dia mengangkat bahu ringan. “Aku nanti baper kalau di khawatirin sama kamu.”
“Rey.”
“Hm?”
“Aku juga bisa duduk nemenin kaya kamu kok.”
Dia menatapku, lama. Ada sesuatu di matanya yang hampir terbuka, lalu tertutup lagi.
“Kamu ….emmmm…duduk aja buat ibu mu…pasti nggak mudah anak cewek berdiri sendiri,” katanya pelan. “Nggak usah buat orang lain.”
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa marah.
Bukan karena dia menolak bantuanku. Tapi karena dia tidak percaya bahwa dia pantas ditopang. Aku membencinya sedikit karena itu. Karena dia selalu memilih menjadi sandaran, tapi menolak bersandar.
Karena dia membuatku merasa dibutuhkan, tapi tidak pernah memberiku kesempatan untuk benar-benar ada.
Dan yang lebih menyakitkan, Aku tahu suatu hari nanti, kalimat itu akan menjadi jarak di antara kami. Kata-katanya “Kamu nggak akan tahu.” Seolah dia sudah memutuskan bahwa kalau dia runtuh, dia akan melakukannya sendirian.
Malam itu kami tetap duduk berdampingan. Tidak menyentuh. Tidak berjanji. Tapi ada sesuatu yang tidak kami ucapkan dan sama-sama pahami: Kami saling menunggu.
Dan orang yang saling menunggu terlalu lama biasanya sedang berjalan menuju perpisahan yang tidak ingin mereka akui.
