Part 7 - Memahami
Tanganku gemetar saat menandatangani formulir persetujuan tindakan. Nama lengkapku terlihat asing ketika kutulis dengan tangan yang tidak stabil. Aku menelepon Rey tanpa pikir panjang. Tidak ada pesan pembuka. Tidak ada penjelasan rapi. Hanya satu kalimat patah:
“Rey… Ibu di UGD.”
Dia datang sebelum aku selesai menangis. Entah dari mana. Entah bagaimana. Tiba-tiba dia sudah berdiri di ujung lorong rumah sakit, rambutnya sedikit basah, napasnya belum sepenuhnya teratur.
Tanpa banyak bicara, dia memelukku. Bukan pelukan romantis. Bukan pelukan yang mencoba memperbaiki segalanya. Hanya pelukan yang membuat hatiku tidak lagi terasa kosong. Dan untuk pertama kalinya, aku menangis di bahunya tanpa berusaha terlihat kuat.
“Takut banget,” bisikku, suaraku pecah.
“Aku tahu.”
“Aku nggak kuat kalau sampai ibu nggak ada.”
Dia mengusap punggungku pelan. Ritmis. Tenang. Seolah sedang menenangkan anak kecil yang tersesat.
“Doa yang baik-baik yaaa,” katanya. “Kamu kuat.” Kalimat itu sederhana. Tapi dari dia, terasa seperti izin untuk tidak sempurna.
Kami duduk bersebelahan di kursi plastik lorong UGD. Dia tidak melepaskan tanganku bahkan ketika dokter lewat dan perawat memanggil nama pasien lain. Untuk beberapa jam, dia menjadi dinding tempat aku bersandar. Dan di sela-sela tangisku yang mereda, aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku sesak dengan cara berbeda. Rey selalu ingin menjadi cahaya. Tapi cahaya yang juga bisa habis kalau terus dipakai.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku melihat kelelahan di matanya—bahkan saat dia sedang menguatkanku. Aku tahu dia harus menguatkan adik dan ibunya. Dan saat ini harus menguatkanku, seketika aku merasa bersalah padanya.
“Maaf Rey, aku egois, aku nggak tanya dulu kamu sibuk nggak. Tadi pikiranku….”
“Udah Ra, aku nggak apa-apa….hanya saja….” Rey terlihat ragu
“Bilang aja Rey…” Aku kini berusaha menggenggam tangannya
“Adikku masih perlu fisioterapi, ibu juga sudah tidak bisa jualan lagi. Rumah keluarga juga sudah dijual…mungkin…..kedepannya kita bakal jarang ketemu. Entah aku harus bekerja ke luar kota atau luar provinsi, aku belum tahu”
Aku memeluknya. Ternyata pundak yang ku gunakan untuk bersandar memanggul hal yang lebih berat dari diriku.
Mulai hari itu, aku berusaha tidak membuatnya khawatir. Aku tahu kapan semuanya mulai berubah. Bukan karena pertengkaran. Bukan karena orang ketiga. Bukan karena rasa itu hilang. Justru karena rasa memahami kami itu terlalu besar.
