Part 8 - Kami Tidak Menyerah, Kami Hanya Saling Menyelamatkan (END)

Rey mulai mengambil lembur tambahan. Proyek tambahan. Konsultasi freelance. Apa pun yang bisa menambah angka di rekeningnya. “Aku nggak apa-apa,” katanya setiap kali aku bertanya kenapa suaranya terdengar lebih lelah di telephon.

Aku juga mulai menyembunyikan kabar buruk. Tentang ibuku yang harus kontrol lebih sering.

Tentang obat yang ibu harus konsumsi lebih banyak. Tentang malam-malam ketika aku menangis sendirian supaya tidak perlu meneleponnya.

Kami saling berkata, “Aku baik-baik saja,” padahal tidak.

Hubungan kami berubah menjadi ruang tunggu yang panjang. Suatu malam, di balkon apartemenku, angin bertiup lebih dingin dari biasanya. Kota di bawah kami berkilauan. Lampu-lampu apartemen menyala seperti bintang yang ditanam manusia di beton. Aku teringat kata-katanya

“Kita adalah dua orang yang nggak baik-baik saja, tapi mencoba jadi manusia yang baik-baik saja.”

“Ya…” aku menarik napas panjang.

“Mungkin kita harus belajar jadi cahaya sendiri dulu.” Lanjut Ret

Kalimat itu jatuh di antara kami. Tidak ada yang membantah. Karena kami tahu itu bukan ancaman. Itu kenyataan. Dan kenyataan sering kali datang tanpa suara.

Perpisahan kami tidak dramatis. Tidak ada kalimat “aku benci kamu”. Hanya dua orang dewasa yang duduk berhadapan, memahami bahwa cinta tidak selalu cukup kalau dua-duanya sedang tenggelam.

Bulan kemarin kami hanya bertemu sekali di kafe yang sama dekat flyover. Tempat yang dulu menjadi ruang aman bagi kami bertemu setiap malam untuk bercerita.

Ironisnya, malam itu terasa seperti ruang pelepasan. “Aku nggak mau cahayamu habis karena aku,” kataku.

Rey menggeleng pelan. “Kamu nggak pernah bikin aku habis.”

Dia tersenyum. Kali ini tidak mencoba menyembunyikan lelahnya.

Aku juga nggak mau kamu hidup cuma buat terlihat sok kuat, Ra” jawabnya.

Aku menahan air mata yang hampir jatuh.

“Aku takut kalau kita saling tenggelam dalam cinta, kita cuma jadi dua orang yang saling sandar sampai dua-duanya roboh.”

Rey mengangguk. Dan dalam anggukan itu, tidak ada penolakan. Hanya penerimaan yang pahit. Kami saling tersenyum. Senyum paling jujur yang pernah kami punya. Senyum yang tidak mencoba memiliki.

Hari ini, listrik di apartemenku mati lagi. Lebihd ari lima menit. Sunyi.

Dulu aku akan duduk di lantai, memeluk lutut, menunggu seseorang datang membawa lilin.

Sekarang aku berdiri.

Di dapur, ada obat ibu yang tadi sore ku beli dan belum sempat ku antarkan ke rumah. Di meja makan, ada tagihan yang sudah kutandai tanggal jatuh temponya. Di ponselku, ada pengingat kontrol minggu depan. Hidup tidak berhenti hanya karena hatiku pernah retak.

Aku menyalakan senter ponsel. Cahaya kecil itu menyapu dinding yang dulu terasa menakutkan. Lalu aku mengambil lilin kecil yang dulu dia bawa. Api itu menyala lagi. Tenang.

Aku duduk sebentar, menatap nyalanya.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak membayangkan dia datang mengetuk pintu. Bukan karena aku tidak ingin. Tapi karena aku tahu, di tempat lain di kota ini, dia juga sedang duduk memikirkan banyak hal di pundaknya. Atau sedang menghitung sisa saldo setelah membayar terapi adiknya. Atau menenangkan ibunya yang masih sulit tidur sejak mereka kehilangan rumah.

Kami bukan dua orang yang menyerah pada cinta. Kami dua orang yang punya tanggungan. Dan kadang-kadang, tanggungan itu menyita bukan hanya waktu— tapi juga sisa tenaga untuk menjadi pasangan yang utuh.

Aku pernah membayangkan bagaimana rasanya jika kami tetap bersama. Mungkin kami akan saling menguatkan. Mungkin kami akan saling menyakiti tanpa sengaja karena terlalu lelah. Mungkin kami akan berubah jadi dua orang yang hanya bertemu untuk bertukar keluhan.

Dan aku tidak mau cinta kami berubah menjadi beban tambahan.

Api lilin itu berkedip pelan.

Aku menyadari sesuatu yang pahit sekaligus dewasa: Mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya di tengah badai. Kadang mencintai berarti memberi ruang agar masing-masing bisa menyelamatkan rumahnya sendiri dulu. Kami tidak saling memiliki. Tapi kami saling menyelamatkan.