Rindu yang Tidak Ikut Pergi
Hujan turun pelan-pelan sore itu. Di luar jendela, daun-daun mulai menguning, seolah musim gugur ingin berbisik sesuatu. Mungkin tentang perpisahan. Atau tentang seseorang yang masih saja tinggal dalam ingatan.
Aku duduk di bangku kayu tua, memeluk cangkir teh hangat. Lagu itu kembali terputar tanpa sengaja. "Aku merindukanmu, dan akhirnya aku menangis lagi."
Namamu tak pernah benar-benar hilang dari pikiranku. Sudah sekian musim berlalu sejak kau pergi. Katanya waktu menyembuhkan segalanya. Tapi aku masih bertanya-tanya: "Berapa lama aku harus menunggumu sampai akhirnya semua ini tidak lagi menyakitkan?"
Kita pernah tertawa bersama, duduk di bawah langit sore, berbagi cerita tanpa tahu hari apa. Bahkan hal-hal kecil pun sekarang menjadi kenangan yang besar.
Ponselku masih menyimpan pesan-pesan darimu. Aku tahu aku seharusnya menghapusnya, tapi... tangan ini tak pernah tega. "Mengapa di dalam foto, kau masih bisa tersenyum begitu cerah?"
Aku mencoba hidup seperti biasa. Menyibukkan diri, bertemu orang baru, menata kembali hati. Tapi setiap langkah selalu kembali padamu. Di halte bus tempat kita menunggu, di jalan kecil tempat kita pernah jalan kaki sambil berebut payung. Semuanya memanggil namamu.
Suatu malam, aku menulis surat yang tak pernah kukirim: “Aku tidak tahu apakah kau juga merindukanku. Tapi aku tahu, aku masih merindukanmu. Setiap hari. Tanpa jeda.”
Merea bilang, "Kalau sungguh mencintai, lepaskanlah."
Tapi bagaimana aku bisa melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diriku?
Musim terus berganti. Tapi rinduku tetap tinggal. Ia menua, namun tidak pernah habis. "Semakin waktu berlalu, semakin aku merindukanmu."
Hari ini, aku kembali ke tempat kita dulu sering bertemu. Bangku itu masih ada, tapi tak ada lagi suara tawamu. Aku duduk diam, memandang langit yang perlahan memerah. Dan untuk kesekian kalinya, aku berbisik dalam hati: "Aku merindukanmu.”
Inspired by BTOB(비투비) - 그리워하다 'Missing You'
