Bahkan Anak Kecil Pun Tidak Lolos dari Penghakiman Internet
Katanya setiap anak lahir dalam keadaan suci. Bersih. Belum membawa label apa pun.
Tapi entah sejak kapan, dosa orang tua bisa begitu mudah dilemparkan ke pundak anaknya.
Belakangan, ramai orang membicarakan seorang anak kecil yang dianggap “nakal”. Ada yang bilang bad attitude. Ada yang menghujat cara ibunya mendidik. Itu masih bisa dipahami. karena setiap orang memang punya pandangan berbeda soal parenting.
Tapi yang aneh, sebagian komentar justru berubah menjadi hukuman untuk si anak.
“Hamil di luar nikah, pantas anaknya begitu.”
Lucu, ya.
Anak kecil bahkan belum paham dunia. Tapi sudah dipaksa menanggung penghakiman yang bahkan bukan tentang dirinya.
Padahal kalau dipikir-pikir, seorang anak tidak pernah memilih dilahirkan dari situasi seperti apa. Tidak memilih lahir dari keluarga utuh atau tidak. Tidak memilih orang tuanya menikah dulu atau tidak. Tidak memilih tumbuh di lingkungan tenang atau penuh luka.
Tapi kenapa yang paling sering dihukum justru anaknya?
Kita sering bilang anak adalah cerminan didikan. Bahwa perilaku dibentuk oleh lingkungan, pola asuh, pengalaman, dan apa yang terus-menerus dia lihat setiap hari.
Kalau begitu, bukankah semakin aneh ketika orang dewasa justru menyerang anak kecil seolah dia sudah pantas menerima label buruk seumur hidupnya?
Kadang rasanya masyarakat ini terlalu mudah memberi cap.
Anak aktif dibilang tidak sopan. Anak emosional dibilang gagal didik. Anak yang berbeda sedikit langsung dianggap “hasil dosa orang tuanya.”
Seolah manusia tidak boleh bertumbuh. Seolah satu potongan kejadian saja cukup untuk menentukan masa depan seseorang.
Padahal orang dewasa saja masih belajar mengontrol emosi, masih salah mengambil keputusan, masih sering melukai orang lain dengan sadar.
Lalu kenapa anak kecil dituntut sempurna?
Dan yang lebih ironis… banyak orang berkata bahwa anak adalah amanah Tuhan. Tapi di saat yang sama, mereka melempar komentar yang bisa menjadi luka pertama dalam hidup seorang anak.
Mungkin kita lupa: anak kecil tidak membaca dunia sekompleks orang dewasa. Tapi suatu hari nanti, mereka bisa membaca jejak-jejak kebencian yang pernah diarahkan pada dirinya.
Dan mungkin yang lebih perlu diajarkan bukan hanya soal cara mendidik anak.
Tapi juga cara menjadi orang dewasa yang tidak kehilangan empati.
Karena kalau setiap kesalahan orang tua terus diwariskan menjadi stigma untuk anaknya, lalu kapan seorang anak punya kesempatan untuk tumbuh sebagai dirinya sendiri?
