Harapan yang Kulepas ke Angin
Ada orang-orang yang datang… bukan dengan suara keras. Bukan juga dengan cara yang dramatis.
Mereka datang pelan. Hampir tidak terasa. Seperti caramu menyebut namaku.
Mungkin bagi orang lain, itu biasa saja. Tapi entah kenapa, setiap kali itu terjadi, ada sesuatu di dalam diriku yang berubah arah.
Aku tidak pernah benar-benar percaya pada hal seperti “sekali seumur hidup”. Terdengar seperti cerita yang terlalu indah untuk nyata.
Sampai aku bertemu kamu.
Tidak ada janji. Tidak ada kepastian.
Hanya percakapan-percakapan kecil yang entah kenapa selalu ingin kuulang.
Dan aku mulai melakukan hal yang bahkan terasa konyol: berharap.
Bukan pada hal besar. Tapi pada hal-hal sederhana yang mungkin tidak pernah kamu sadari, seperti menatapmu sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
Seperti diam-diam menghafal cara kamu tersenyum.
Seperti percaya… bahwa mungkin, hanya mungkin, ada tempat untukku di hidupmu.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri, "apa ini nyata, atau hanya perasaan yang kubesar-besarkan?"
Karena jujur saja, aku belum pernah merasa sehidup ini hanya karena seseorang melihat ke arahku. Dan itu menakutkan.
Karena semakin aku berharap, semakin aku tahu… aku bisa kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar kumiliki.
Tapi tetap saja, aku memilih tinggal di perasaan ini sedikit lebih lama.
Seperti berdiri di tengah ladang dandelion, meniup satu per satu harapan ke udara, tanpa pernah tahu mana yang akan benar-benar sampai padamu.
Mungkin kamu tidak pernah tahu. Mungkin juga… tidak akan pernah tahu.
Tapi jika suatu hari kamu bertanya kenapa aku tersenyum lebih banyak saat bersamamu,
jawabannya sederhana: karena untuk pertama kalinya, aku tidak hanya membayangkan “selamanya”.
Inspired by Dandelions - Ruth B.
