Luka yang Manis

 

Jam dua pagi, lift apartemen itu berhenti di lantai dua belas dengan bunyi kecil yang dingin. Raka keluar sambil membawa kantong plastik berisi mi instan dan dua kaleng kopi murah. Lorong apartemen sepi sekali sampai suara langkah kakinya terdengar seperti gema orang asing.

Ia berhenti di depan pintu unit 12C.

Lampunya mati.

Sudah tiga minggu sejak pintu itu terakhir terbuka untuknya, tapi tubuh Raka masih punya kebiasaan bodoh: berharap.

Berharap ada suara kunci dari dalam. Berharap ada pesan yang ternyata belum dibaca. Berharap semua cuma salah paham yang bisa selesai lewat satu percakapan.

Tapi manusia memang aneh. Kadang tetap berdiri di depan sesuatu yang sudah selesai, seolah kesedihan bisa berubah pikiran kalau ditunggu cukup lama.

Raka tertawa kecil pada dirinya sendiri lalu berjalan menuju unitnya sendiri di ujung lorong.

Di dalam kamar, hanya ada suara kulkas tua dan kipas angin yang berisik. Meja kerjanya penuh ilustrasi yang belum selesai. Beberapa gelas kopi mengering di sudut meja seperti saksi bisu orang yang sudah terlalu lelah membereskan hidupnya sendiri.

Ponselnya menyala.

Nama itu muncul lagi.

Liora.

Jantung Raka masih berdegup aneh setiap melihat nama itu, dan ia membenci kenyataan tersebut.

Pesannya pendek.

Aku tadi lewat tempat ramen favorit kita.”

Tidak ada “apa kabar.” Tidak ada “maaf.” Tidak ada penjelasan kenapa ia pergi begitu saja bulan lalu setelah tiga tahun bersama.

Hanya satu kalimat kecil yang membuka luka seperti mencabut perban terlalu cepat.

Raka membaca pesan itu lama sekali sampai layar ponselnya redup sendiri.

Dulu, Liora adalah rumah.

Perempuan itu tahu cara menenangkan kepalanya yang berisik. Tahu kalau Raka diam bukan berarti marah. Tahu kalau di balik sifat bercandanya, Raka sebenarnya takut ditinggalkan lebih dari apa pun.

Dan mungkin itu sebabnya ketika Liora pergi, yang rusak bukan cuma hubungan mereka.

Tapi juga cara Raka memandang dirinya sendiri.

Ia mulai mempertanyakan semuanya.

Apa dirinya terlalu membosankan? Terlalu miskin? Terlalu penuh mimpi yang nggak jelas? Atau terlalu mudah mencintai seseorang sampai lupa menyisakan diri sendiri?

Raka melempar ponselnya ke kasur.

Lalu berjalan ke balkon.

Kota di bawah masih hidup. Lampu kendaraan bergerak seperti aliran darah panjang yang tidak pernah benar-benar tidur. Dari unit sebelah terdengar suara orang bertengkar pelan. Dari bawah ada suara motor lewat terlalu cepat.

Dan di antara semua kebisingan itu, Raka merasa kosong sekali.

Ia menyalakan rokok meski sebenarnya sedang berusaha berhenti.

Katanya nikotin bisa menenangkan.

Bohong.

Yang ada cuma membuat tangan sibuk supaya hati tidak terlalu gaduh.

Angin malam menerpa wajahnya saat ia membuka galeri lama di ponsel.

Foto Liora tertawa di minimarket. Foto blur di halte bus. Foto semangkuk ramen yang tidak pernah disentuh karena mereka terlalu sibuk ngobrol.

Ada juga video pendek ketika Liora berkata sambil tertawa: “Kalau suatu hari aku pergi, jangan jadi orang nyebelin ya.”

Raka mematikan video itu cepat-cepat.

Dulu kalimat itu terdengar seperti candaan.

Sekarang rasanya seperti ramalan buruk.

Ponselnya bergetar lagi.

Kali ini voice note.

Raka hampir tidak mau membukanya. Tapi manusia memang sering kalah oleh rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang melukainya sendiri.

Suara Liora terdengar pelan di tengah noise jalanan.

“Raka… aku tahu aku jahat.”

“Aku cuma… capek jadi satu-satunya alasan kamu bertahan hidup.”

“Aku takut kalau aku tetap tinggal, kita malah saling tenggelam.”

Raka diam.

Untuk pertama kalinya sejak ditinggalkan, ia tidak merasa marah.

Hanya lelah.

Lelah karena ternyata mencintai seseorang terlalu dalam bisa berubah seperti pisau bermata dua. Semakin dalam ia menyelam, semakin sulit membedakan mana cinta dan mana ketergantungan.

Ia duduk di lantai balkon perlahan.

Malam terasa dingin sekali.

Dan anehnya, di tengah rasa sesak itu, Raka akhirnya menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah mau ia akui:

Liora memang meninggalkannya. Tapi sebagian luka ini juga lahir karena Raka menyerahkan seluruh hidupnya pada satu orang.

Seolah kebahagiaan hanya punya satu nama.

Seolah kalau orang itu pergi, hidup ikut selesai.

Raka menunduk sambil tertawa kecil. Matanya panas.

“Bodoh banget ya gue…”

Di langit, subuh belum datang. Kota masih menggantung di antara gelap dan cahaya pertama pagi.

Tapi untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Raka mematikan ponselnya sendiri.

Tidak menunggu pesan baru. Tidak membuka foto lama. Tidak mencari alasan untuk kembali tenggelam.

Karena kadang seseorang datang bukan untuk tinggal selamanya.

Kadang mereka hanya meninggalkan bekas. Luka yang manis.

Dan meski sakitnya tidak hilang cepat, setidaknya sekarang Raka mulai belajar:

bahwa mencintai orang lain seharusnya tidak sampai membuat seseorang kehilangan pikirannya sendiri.