Mencari Hangat di Kota yang Dingin
Ada masa di mana kota ini mulai terasa seperti ruang tunggu
panjang yang tidak pernah benar-benar membawa siapa pun pergi.
Lampu-lampu pusat perbelanjaan tetap menyala terang sampai
tengah malam. Jalanan tetap penuh. Orang-orang tetap tertawa di video pendek
berdurasi tiga puluh detik. Semua tampak hidup.
Terlalu hidup, malah. Sampai kadang rasanya mencurigakan.
Karena di balik layar kecil yang terus menyuruh kita bahagia
itu, banyak orang diam-diam sedang kehilangan sesuatu yang tidak bisa
dijelaskan.
Ada yang kehilangan tenaga untuk bermimpi.
Ada yang kehilangan rasa aman bahkan di rumah sendiri.
Ada yang kehilangan masa depan sebelum sempat mencapainya.
Dan anehnya, dunia tetap berjalan seperti tidak terjadi
apa-apa.
Harga kebutuhan naik perlahan seperti orang mengetuk pintu
tengah malam, pelan, tapi cukup untuk membuat semua orang terbangun cemas.
Orang-orang bekerja lebih lama hanya untuk hidup dengan standar yang semakin
kecil. Anak muda diminta “berjuang lebih keras” di dunia yang bahkan
tidak memberi mereka tempat berdiri yang stabil.
Lucu ya.
Kita hidup di zaman di mana semua orang bisa bicara tentang
kesehatan mental… tapi tetap harus meminta izin untuk sakit.
Di zaman di mana empati dijadikan slogan, sementara manusia
asli dianggap terlalu sensitif.
Di zaman di mana orang berlomba terlihat sukses, padahal
separuh dari mereka bahkan tidak tahu alasan mereka masih bertahan.
Kadang aku merasa negeri ini seperti ruangan besar yang
penuh orang kelelahan, tapi semua sepakat untuk pura-pura baik-baik saja agar
suasana tidak canggung.
Dan mungkin itu bagian paling menyeramkan.
Bukan tentang krisisnya.
Tapi tentang bagaimana manusia bisa terbiasa hidup di
dalamnya.
Kita mulai menganggap lelah sebagai kepribadian.
Menganggap burnout sebagai tanda rajin.
Menganggap mati rasa sebagai bentuk kedewasaan.
Lalu suatu hari aku sadar… mungkin dystopia bukan tentang
kota hancur atau langit merah seperti film-film.
Mungkin dystopia adalah saat manusia terlalu capek untuk
peduli.
Saat orang melihat ketidakadilan lalu berkata, “Ya mau
gimana lagi.”
Saat berita buruk datang setiap hari sampai hati kita
berhenti bereaksi.
Saat kita lebih takut kehilangan pekerjaan daripada
kehilangan diri sendiri.
Tapi anehnya… di tengah semua itu, masih ada hal-hal kecil
yang membuatku bertahan.
Seorang teman yang diam-diam membayar makan temannya karena
tahu akhir bulan lebih kejam dari biasanya.
Orang asing yang tetap mengucapkan hati-hati di jalan meski
hidupnya sendiri berantakan.
Orang-orang yang masih bisa tertawa tulus walau besok pagi
harus kembali menghadapi dunia yang sama.
Mungkin memang tidak ada utopia yang menunggu kita.
Mungkin dunia tidak akan tiba-tiba membaik.
Tapi kalau masih ada manusia yang memilih untuk tetap lembut
di dunia yang memaksa mereka keras… mungkin itu cukup.
Mungkin euphoria yang sebenarnya bukan ditemukan saat
semuanya sempurna.
Tapi saat kita berhasil tetap menjadi manusia… di tengah dunia yang perlahan membuat semua orang berhenti merasa.
(Inspired by Dystopia by ONE OK ROCK)
