Seplastik Daging untuk Ibu
Orang-orang dewasa berdiri membawa kantong besar. Beberapa bercanda. Beberapa sibuk memilih bagian daging.
Sementara dia hanya menggenggam plastik kresek warna hitam, yang ukurannya bahkan lebih besar dari lengannya sendiri.
“Ibumu mana?” tanya panitia.
Anak itu menunduk sebentar.
“Sakit, Pak…”
Lalu antrean kembali bergerak, dan tidak ada yang benar-benar tahu bahwa sejak subuh ia berjalan sendiri sambil menahan takut.
Karena di rumah, ada seorang ibu yang belum makan sejak kemarin malam.
Beras terakhir sudah dimasak untuknya.
Dan telur satu-satunya, sudah diberikan ibunya sambil berkata pelan, “Dede makan ya… Ibu nggak lapar.”
Padahal semalaman perut perempuan itu berbunyi. Anak kecil seusianya memang belum benar-benar mengerti arti menahan lapar, tapi ia tahu satu hal: ibunya berbohong.
Namanya Rara.
Tubuhnya kecil. Terlalu kecil untuk berjalan sendiri sejauh itu.
Ia mengenakan sandal jepit biru yang bagian depannya mulai sobek. Bajunya sedikit kebesaran. Rambutnya diikat seadanya.
Tapi pagi itu, ia merasa harus jadi anak berani.
Sebab sebelum berangkat, ibunya sempat menggenggam tangannya sambil berbisik, “Hati-hati ya… jangan dorong-dorongan.”
Rara mengangguk cepat, meski sebenarnya ia takut sekali.
Takut tersesat. Takut dimarahi orang. Takut antreannya habis.
Tapi lebih takut lagi kalau pulang tanpa membawa apa-apa.
Matahari mulai meninggi. Orang-orang dewasa bergerak lebih cepat. Beberapa panitia mulai membagikan kantong daging.
Rara berdiri jinjit berkali-kali, berusaha memastikan namanya belum terlewat.
Ia datang membawa kupon. Tetangga sebelah rumah yang memberinya tahu, “Datang aja pagi-pagi. Biasanya dikasih lebih iga atau kulit.”
Dan Rara memegang kalimat itu seperti harapan terakhir.
Saat akhirnya plastik hitamnya diisi beberapa potong daging, matanya langsung berbinar.
Kecil sekali sebenarnya. Mungkin tak sampai satu dua kilo.
Tapi bagi anak enam tahun, itu terasa seperti membawa pulang kebahagiaan.
“Pegang yang kuat ya,” kata panitia.
Rara mengangguk serius.
Ia memeluk plastik itu dengan kedua tangan, seolah takut dunia merebutnya.
Di perjalanan pulang, langkahnya jauh lebih cepat.
Ia sudah membayangkan ibunya tersenyum.
Mungkin nanti ibunya akan makan banyak. Mungkin nanti ibunya jadi kuat lagi. Mungkin besok ibunya tidak perlu terus berbaring.
Di ujung gang, seorang ibu-ibu tetangga memanggilnya.
“Ra… habis ambil daging?”
Rara mengangguk semangat.
Perempuan itu memperhatikan plastik kecil di tangannya, lalu memperhatikan wajah Rara yang penuh peluh.
“Sendirian?”
“Iya Budhe…”
Entah karena iba, atau karena tak tega melihat anak sekecil itu berjalan sendiri di tengah ramai, perempuan itu masuk sebentar ke rumah, lalu keluar membawa bawang merah, bawang putih, sedikit cabai, dan sebungkus kecil garam.
“Nih… buat masak sama ibumu.”
Rara menerimanya seperti menerima hadiah besar.
“Terima kasih ya Budhe…”
Suaranya kecil sekali.
Lalu ia berjalan pulang sambil memeluk semuanya erat-erat.
Langit siang terasa panas. Debu jalan menempel di kaki kecilnya. Tapi untuk pertama kalinya sejak beberapa hari, dadanya terasa ringan.
Ia membayangkan aroma masakan memenuhi rumah kecil mereka.
“Ibu pasti senang…”
Begitu pikirnya berkali-kali.
Rumah mereka berada paling ujung. Dindingnya setengah anyaman bambu. Atapnya bocor di beberapa bagian.
Biasanya, sebelum masuk, Rara selalu mendengar batuk ibunya lebih dulu.
Tapi siang itu sunyi.
Tidak ada suara apa-apa.
Rara mendorong pintu pelan.
“Ibu…”
Tidak ada jawaban.
Ia masuk sambil tersenyum kecil.
“Ibu, Rara bawa daging…”
Tetap tidak ada suara.
Baru saat itulah ia melihat tikar di sudut rumah.
Ibunya tidak ada di sana.
Selimut tipis itu kosong.
“Ibu?”
Langkah kecilnya mulai terburu-buru.
Ia mencari ke belakang rumah. Ke kamar mandi kecil. Ke dapur.
Ibunya sudah tertelungkup di depan tungku.
Asap kayu bakar masih tipis mengepul.
Dadanya mulai sesak.
“Ibu…”
Suaranya pecah.
Plastik daging di tangannya jatuh pelan ke lantai.
Bumbu-bumbu dari tetangga ikut berserakan.
Rara mulai menangis.
Awalnya pelan.
Lalu semakin keras.
Tangis ketakutan anak kecil yang mendadak merasa sendirian di dunia.
Karena enam tahun terlalu kecil untuk memahami ke mana orang pergi saat mereka tak lagi kembali.
Tetangga mulai berdatangan setelah mendengar tangisnya.
Dan hari itu, di bawah langit Idul Adha yang ramai, seorang anak kecil belajar bahwa dunia bisa berubah hanya dalam satu siang.
Ibunya meninggal beberapa jam sebelum ia pulang.
Tubuh perempuan itu sempat dibawa warga ke puskesmas, tapi nyawanya sudah tidak tertolong.
Mereka terlambat.
Dan Rara tidak pernah sempat memberikan seplastik daging itu.
Dua puluh tahun berlalu.
Pagi itu, langit desa masih sama.
Takbir berkumandang dari masjid. Anak-anak kecil berlarian. Ibu-ibu sibuk menyiapkan panci besar.
Bedanya, kali ini bukan lagi anak kecil bersandal sobek yang berdiri di tengah keramaian.
Melainkan seorang perempuan muda dengan tatapan hangat dan langkah tenang.
Namanya masih Rara.
Di sampingnya, berjalan seorang lelaki tua berpeci hitam, dengan langkah pelan karena usia.
Semua orang di desa mengenalnya sebagai Pak Lurah.
Orang-orang menyalami mereka satu per satu.
“Sehat, Pak…”
“Alhamdulillah, Makin sehat ini karena Rara pulang…”
Perempuan itu tersenyum sopan membalas sapaan mereka.
Tangannya menggenggam tali seekor sapi besar berwarna cokelat.
Sapi kurban.
Anak-anak kecil mengikuti dari belakang sambil kagum.
“Besaaaaar…”
Pak Lurah tertawa kecil.
“Dulu Mbak Rara juga kecil banget,” katanya sambil melirik Rara.
Rara ikut tersenyum.
Tapi matanya mulai basah. Sebab setiap gema takbir selalu mengembalikannya ke siang dua puluh tahun lalu.
Ke plastik hitam kecil. Ke bawang pemberian tetangga. Ke rumah sunyi. Ke rasa takut yang tak pernah benar-benar hilang.
Setelah ibunya meninggal, Pak Lurah dan istrinya datang malam itu juga. Bu Lurah memeluknya erat sekali. Sementara Rara kecil hanya diam sambil menangis sampai tertidur.
Mereka tidak punya anak. Dan entah kenapa, sejak malam itu, mereka tidak pernah membiarkan Rara merasa sendiri lagi.
Mereka menyekolahkannya. Membelikannya seragam. Menemaninya belajar membaca. Mengusap kepalanya setiap kali mimpi buruk datang.
Bu Lurah sering memasakkan sop hangat saat hujan. Dan Pak Lurah, diam-diam selalu memastikan Rara makan lebih dulu.
Bertahun-tahun kemudian, Rara baru sadar: ada orang-orang yang bukan darah kita, tapi dipilih Tuhan untuk menjadi rumah.
Kini Bu Lurah sudah tiada. Tiga tahun lalu, perempuan baik itu menyusul ibu kandung Rara pergi dengan tenang.
Sejak hari itu, rumah mereka jadi lebih sunyi. Pak Lurah semakin sering duduk lama di teras. Lebih banyak diam. Lebih cepat menua. Dan Rara tahu, kali ini giliran dirinya yang harus tinggal.
Itulah alasan ia memilih bekerja di kota kecil yang tak terlalu jauh dari desa. Agar lelaki tua itu tidak kembali merasa kehilangan sendirian.
Pagi ini, Rara pulang lebih awal bersama sebuah mobil pickup yang membawa sapi kurban hasil kerja kerasnya sendiri.
Ia duduk di samping Pak Lurah, ikut menemani perjalanan pelan menuju masjid desa.
Di belakang mereka, seekor sapi cokelat berdiri tenang, sesekali mengembuskan napas panjang.
“Capek nggak, Pak?” tanyanya pelan.
Pak Lurah menggeleng kecil.
“Enggak…”
Lalu lelaki tua itu menatap Rara beberapa detik lebih lama. “Bapak cuma masih nggak nyangka… anak kecil yang dulu pulang nangis bawa plastik daging, sekarang selalu bisa bawa sapi sendiri.”
Mobil pickup mereka berjalan perlahan melewati gang kecil. Gang yang dulu dilalui Rara kecil sambil membawa seplastik daging.
Beberapa warga yang lebih tua mulai menatap mereka dengan mata berkaca-kaca.
Mereka ingat. Mereka semua ingat anak kecil itu. Anak yang dulu menangis sendirian di rumah reyot.
Anak yang kini tumbuh menjadi perempuan lembut, pendidikan tinggi, dan tetap menyisihkan uangnya setiap Idul Adha.
Sesampainya di halaman masjid, Rara jongkok sebentar di depan beberapa anak kecil.
“Udah pada makan belum?”
Anak-anak itu mengangguk malu-malu.
Rara tersenyum.
Lalu diam-diam ia meminta panitia, “Kalau ada anak yang datang sendiri… tolong diduluin ya, Pak.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi Pak Lurah yang mendengarnya langsung memalingkan wajah tak kuasa menahan haru.
Karena beliau tahu, ada luka yang tidak pernah benar-benar selesai.
Rara hanya belajar hidup bersamanya. Tak lama, takbir kembali menggema. Angin pagi berembus pelan.
Dan di tengah keramaian itu, Rara mendadak teringat satu hal kecil yang dulu tidak sempat ia lakukan.
Ia menoleh ke langit sebentar. Lalu berbisik sangat pelan, hampir seperti doa.
“Ibu… hari ini Rara bawa daging banyak lagi. Ibu sudah ketemu sama Mamak kah di sana? Kalau sudah ketemu bilang ke Mamak, Rara akan jaga Bapak di sini”
Suaranya bergetar. Untuk sesaat, ia kembali menjadi anak kecil enam tahun yang hanya ingin ibunya makan.
Pak Lurah menggenggam pundaknya pelan. Tidak banyak bicara.
Karena kadang, cinta terbesar memang hadir dalam hal-hal sederhana: orang yang datang, lalu memilih tinggal, saat seluruh dunia terasa pergi.
Takbir terus berkumandang. Dan di bawah langit Idul Adha itu, seorang anak kecil yang dulu kehilangan rumah, akhirnya benar-benar mengerti, bahwa Tuhan kadang mengambil satu pelukan, lalu menggantinya dengan tangan-tangan lain agar manusia tetap punya alasan untuk hidup.
