Menunggu

 

Ada cinta yang lahir di waktu yang salah. Dan ada juga… cinta yang lahir di dunia yang berbeda.

Aku tidak tahu sejak kapan semua ini dimulai. Hanya saja, sejak beberapa tahun terakhir, aku sering bermimpi tentang tempat yang tidak pernah aku datangi.

Langitnya gelap, tapi penuh bintang. Bukan seperti malam biasa, lebih sunyi, lebih luas, seolah tidak ada batas antara aku… dan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Dan di sana, selalu ada kamu.

Kita tidak pernah benar-benar berbicara di mimpi itu. Tidak ada perkenalan. Tidak ada pertanyaan. Tapi anehnya, aku selalu tahu, aku mengenalmu.

Seperti seseorang yang pernah aku tunggu terlalu lama, lalu akhirnya muncul… di tempat yang bahkan bukan milikku.

Kamu tidak pernah mendekat, tidak pula terlalu jauh. Hanya berdiri di sana, di antara cahaya bintang yang redup. Tersenyum, seolah memastikan aku masih bisa melihatmu.

Dan setiap kali aku mencoba berjalan ke arahmu, aku selalu terbangun.

Awalnya aku menganggapnya hanya mimpi. Sampai suatu malam, kamu akhirnya berbicara. “Aku hanya menginginkan cinta yang akan abadi selamanya.”

Suaramu pelan, tapi terasa lebih nyata dari apapun yang pernah aku dengar saat terjaga.

Sejak itu, semuanya berubah. Aku mulai menunggumu.

Menunggu malam datang, berharap bisa kembali ke tempat itu, tempat di mana dunia terasa berhenti, dan hanya ada kita… di antara gelap dan bintang.

Aku bisa melihatmu dari kehidupan masa laluku.” Kali ini kamu lebih dekat.

Aku bisa melihat matamu dengan jelas, ada sesuatu di sana… rindu yang bahkan tidak aku ingat pernah aku rasakan.

Apa kita pernah… bertemu?” tanyaku.

Kamu tersenyum. Bukan senyum bahagia, tapi senyum seseorang yang sudah tahu jawabannya terlalu lama.

Kita tidak pernah benar-benar berpisah,” katamu.

Aku terbangun dengan napas yang tidak teratur. Untuk pertama kalinya, aku merasa kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah aku miliki di dunia ini.

Hari-hari setelah itu terasa berbeda. Keramaian terasa kosong. Percakapan terasa datar. Seolah sebagian dari diriku… tertinggal di tempat yang tidak bisa aku jelaskan.

Sampai akhirnya, di mimpi yang berikutnya, aku memberanikan diri bertanya: “Kenapa kita tidak bisa bertemu di sana saja? Di dunia ku?”

Kali ini, kamu tidak langsung menjawab. Kamu melihat ke arah langit, ke bintang-bintang yang terus berpendar tanpa suara.

Aku sudah pernah mencoba,” katamu pelan.

Ada jeda panjang. Dan entah kenapa, dadaku terasa sesak… sebelum kamu melanjutkan. “Tapi tidak semua cinta diizinkan hidup di dunia yang sama.”

Aku diam. Untuk pertama kalinya, aku mulai mengerti. Kamu bukan seseorang yang “jauh”. Kamu hanya… tidak lagi berada di dunia yang sama.

Maka jangan menyerah,” lanjutmu.

Melalui mimpi-mimpi yang kita temukan… kita tetap bisa saling pulang.”

Malam itu, aku tidak mencoba mendekat. Tidak mencoba menyentuhmu. Hanya berdiri, menatapmu lebih lama dari biasanya. Menyimpan setiap detail, takut kalau suatu hari nanti, bahkan mimpi pun tidak lagi cukup.

Sebelum aku terbangun, kamu berkata satu hal terakhir: “Aku akan tetap di sini… di antara bintang-bintang itu.”

Sekarang, aku tidak lagi berharap kamu datang ke duniaku. Aku juga tidak lagi bertanya kenapa kita dipertemukan seperti ini.

Karena aku mulai mengerti, tidak semua cinta harus dimiliki dalam satu kehidupan. Beberapa hanya ditakdirkan untuk bertahan… di antara dua dunia.

Dan setiap kali aku melihat langit malam, aku tidak lagi merasa sendiri. Karena di antara gelap yang luas itu, aku tahu… ada seseorang yang masih menungguku di kehidupan yang tidak bisa aku capai saat ini.

Inspired by A Legend (Lay feat. Jackie Chan, Kim Hee-sun)