Yang Mereka Anggap Bercanda, Aku Ingat Sampai Sekarang
Waktu pertama kali nonton itu, ada satu pikiran yang langsung muncul di kepalaku, “andai Nanno ada waktu aku sekolah dulu.”
Karena ya, aku juga pernah ada di posisi itu. Posisi yang mungkin, kalau dilihat dari luar, kelihatan sepele. Tapi buat yang ngalamin, rasanya pelan-pelan menggerogoti diri sendiri.
Aku pernah dikucilkan hanya karena aku nggak punya bekal untuk dibagikan. Di usia di mana seharusnya kita belajar berteman, aku justru belajar bahwa “berbeda” bisa jadi alasan untuk dijauhkan.
Aku pernah dipanggil dengan sebutan yang bahkan aku sendiri waktu itu belum sepenuhnya mengerti artinya. Dipanggil anak haram, dipaksa memberikan uang. Dijadikan bahan bercandaan yang katanya “cuma iseng”.
Dan yang lebih menyakitkan, semua itu terjadi seolah-olah itu hal biasa. Ada yang tahu, tapi memilih diam. Ada yang melihat, tapi berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Di titik itu, aku sering membayangkan, bagaimana kalau ada seseorang seperti Nanno yang datang, yang membuat semuanya “dibayar lunas”. Yang membuat mereka merasakan apa yang aku rasakan.
Tapi tentu saja, itu cuma bayangan. Nanno tidak pernah benar-benar datang.
Yang ada hanya aku, dengan rasa takut yang makin lama makin penuh.
Sampai akhirnya, di kelas 5 SD, ada satu titik di mana rasa itu berubah. Bukan karena aku tiba-tiba jadi berani, tapi karena aku sudah terlalu lelah untuk terus diam.
Hari itu, aku mengambil kursi… dan aku memukul kakak kelas yang selama ini membully aku. Dia berdarah.
Dan setelah kejadian itu, semuanya memang berubah. Tidak ada lagi yang berani mengganggu aku.
Kalau dilihat sekilas, seolah-olah itu “akhir yang menyelesaikan masalah”. Seolah-olah melawan adalah jawabannya.
Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
Karena yang berhenti hanya perlakuannya. Bukan rasa yang tertinggal.
Rasa tidak diterima. Rasa kecil. Rasa bahwa dulu, aku pernah ada di posisi yang tidak punya siapa-siapa.
Hal-hal itu tidak hilang hanya karena satu kejadian.
Dan dari situ aku mulai menyadari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar ceritaku sendiri.
Tidak semua orang sampai di titik “melawan”. Banyak yang memilih diam, bukan karena mereka lemah, tapi karena mereka tidak tahu harus bagaimana.
Mereka menahan. Mereka menyimpan. Mereka mencoba bertahan dengan cara mereka sendiri.
Dan di luar sana, kita tahu… ada yang tidak kuat sampai akhir.
Ada yang menyerah. Ada yang memilih pergi, karena merasa tidak ada lagi tempat yang aman.
Yang membuatku terus bertanya sampai sekarang adalah ini:
Kenapa dalam banyak kasus, tidak ada sanksi sosial yang benar-benar terasa bagi pelaku? Kenapa yang harus pindah sekolah seringkali justru korbannya? Kenapa yang harus belajar “kuat” selalu orang yang disakiti?
Sementara pelakunya… bisa saja tetap menjalani hidup seperti tidak terjadi apa-apa.
Mungkin kita memang tidak punya Nanno di dunia nyata. Tidak ada sosok yang datang tiba-tiba untuk membalas semuanya.
Tapi mungkin, yang sebenarnya kita butuhkan bukan itu.
Kita butuh lebih banyak orang yang tidak memilih diam. Yang berani mengatakan, “ini salah,” bahkan ketika itu tidak nyaman. Yang tidak menunggu korban menjadi kuat, tapi hadir sebelum semuanya terlambat
